Penunggu Rumah Paviliun

Home > Cerita Hantu > Penunggu Rumah Paviliun – 1711 reads

Halo, namaku Friska, aku mau sedikit berbagi salah satu kisah hantu yang dialami oleh kedua orang tuaku. Kejadian ini dialami oleh kedua orang tuaku ketika mereka baru menikah. Kala itu mama papaku bersama nenek, ke-3 adik perempuan papa yaitu tante Lili, tante Mega, tante Lani dan om Freddy, suami dari tante Lili berencana untuk libur keliling pulau Jawa menggunakan mobil.

Dalam perjalanan menuju Bromo mereka memutuskan untuk singgah sejenak di daerah Tawang Mangu. Disana mereka mendapat tempat untuk istirahat di rumah adik om Freddy, rumah itu memiliki paviliun di bagian samping rumah utama dan mereka menempati paviliun tersebut.

Saat malam menjelang mereka berkumpul bersama untuk mengobrol dan bercanda gurau. Papaku yang memiliki sifat jahil mengajak om Freddy untuk berlomba siapa yang paling banyak buang gas (maaf, kentut). Semua tertawa terbahak-bahak dengan tingkah konyol papa dan om Freddy, setelah mereka puas mengobrol dan bercanda gurau akhirnya mereka memutuskan untuk pergi tidur.

Read Another Stories:

Mereka tidur bersama diruang depan agar dapat saling membangunkan saat esok pagi menjelang. Ketika tengah malam menjelang mamaku yang sedang tertidur pulas mendengar suara-suara yang mengganggu. Mulai dari suara langkah alas kaki entah itu sepatu atau sendal yang diseret, dentingan gelas beling yang beradu dan suara berisik tidak jelas dari arah dapur.

Mama yang merasa terganggu kemudian beranjak dari tempat tidurnya, melihat ke arah sekeliling, mencari dengan saksama sumber keributan sebenarnya, tiba-tiba mama mendapati tante Mega seperti sedang meracau tidak jelas dalam tidurnya. Akhirnya semua terbangun karena tante Mega meracau semakin keras dan mengeluarkan suara seperti seekor monyet yang sedang mengamuk. Semua begitu terkejut dan panik ketika tiba-tiba saja tubuh tante Mega mulai terangkat dan melayang kecil diatas tempat tidur.

Papa dan om Freddy berusaha menarik tubuh tante Mega namun tubuhnya begitu berat. Untung saja setelah melayang beberapa menit yang terasa begitu lama dan menegangkan akhirnya tubuh tante Mega dapat ditarik dan berhenti melayang-layang. Setelah keadaan mulai tenang nenek pun memberikan minum untuk tante Mega, mama memencet jempol kaki tante Mega, tante Lili dan tante Lani berusaha menenangkan tante Mega, kemudian mereka semua membacakan doa.

Setelah itu mereka semua memutuskan untuk membangunkan pemilik rumah sebelum kejadian yang tidak diinginkan terjadi lagi. Akhirnya pemilik rumah mengijinkan mereka semua untuk tidur dirumahnya tanpa menjelaskan hal yang pasti ada apa dengan paviliun tersebut. Setelah pindah tidur ke rumah utama mereka masih mendengar suara aneh dan mengganggu, bayangan hitam yang berkelebatan berusaha mengundang perhatian, tapi mereka berusaha untuk tenang dan tidak menggubris.

Namun suara itu terus mengganggu, membuat tidur mereka sangat gelisah dan untung saja semua kejadian tak menyenangkan itu berhenti saat subuh tiba. Mama pun segera mengajak yang lain untuk segera pergi dan beranjak dari rumah itu. Sebelum pergi mama sempat mengintip ke arah belakang rumah dan mama melihat pohon beringin besar yang dikeliling banyak sesajen dibagian bawah pohon.

Dalam hati mama bicara “sepertinya kami sudah membuat penunggu disini marah. Untung saja tidak ada wujud dari dunia lain yang benar-benar menampakan diri”.

Untuk para pembaca, berhati-hatilah ketika datang mengunjungi daerah yang masih asing atau kemanapun kalian pergi, jagalah sikap kalian karena kalian tidak akan pernah tahu hal apa yang akan terjadi bila ada “penunggu” yang tidak suka dengan sikap kalian.