Pocong Penghuni Kebun Pisang

Aku tinggal di kawasan Kalimalang, Jakarta Timur. Kebetulan aku hobi sekali dengan musik. Aku dan anggota band rutin latihan setiap 3x seminggu. Kebetulan hari itu hari kamis, dan karena akan mengikuti sebuah festival, akhirnya aku memutuskan untuk mengadakan latihan dadakan, agar bisa menunjang penampilan mereka.

Karena mendadak, mereka menemukan bahwa semua studio musik telah penuh jadwalnya. Mereka pun terus mencari studio yang kosong. Tetapi mereka tidak menemukan juga, mereka putus asa. Salah satu temanku tahu sebuah studio yang tidak terlalu ramai. Letaknya di daerah narogong, Bekasi. Mereka pun meluncur ke sana.

Tanpa tidak disangka ternyata lokasi studio tersebut sangat sepi. Terdapat beberapa kumpulan pohon pisang. Begitu sampai, mereka pun memulai latihan. Setelah beberapa jam, aku dan teman-teman pun selesai latihan. Saat itu jam tanganku menunjukan jam 12 malam. Mereka pun pergi sambil mencari penjual minuman karena merasa kehausan.

Ketika mereka sedang kebingungan mencarinya, dari kejauhan mereka melihat ada seorang wanita berjalan ke arah mereka. Aku pun bertanya pada wanita itu, “Neng, di sini warung di mana ya?”

Wanita itu pun menatapku dengan tajam seraya bilang, “Di depan sana ada warung kok, gak jauh.”

Entah kenapa aku merasa ada yang aneh dengan tatapan wanita itu. Tetapi ketika ingin ditanya lebih lanjut, wanita itu langsung pergi. Aku dan teman-temannya langsung mencari warung itu. Benar saja, tak berapa lama memacu sepeda motor, aku melihat ada sebuah warung kopi di pinggir jalan sepi. Mereka pun mampir.

Ternyata warung itu milik seorang suami istri, mereka menyambut kedatanganku dan teman-teman. Aku melihat keanehan di wajah istri si pemilik warung. Wajahnya seperti pucat dan lebam. “Ah mungkin saja ia sedang sakit” pikirku.

Aku dan teman-teman bercengkerama di warung itu, tetapi selang beberapa saat, aku melihat ada seorang kakek menatap tajam ke arahku dan teman-teman. Wajah kakek itu amat menyeramkan. Seakan-akan kakek itu menyimpan sesuatu. Karena penasaran aku pun beranjak dan menghampiri kakek itu untuk menyapanya sebagai basa-basi. Kakek itu berada sekitar 10 meter dari warung tempat aku dan teman-teman berada.

Assalamualaikum kek, ada apa ya kok kakek berdiri di sini?” tanyaku sopan.

“Suruh teman-teman kamu pergi dari sana!” jawab si kakek dengan tegas.

Aku pun menolak perintah si kakek, kakek itu terlihat tidak suka dengan jawabanku. Tiba-tiba kakek itu menamparku, secara refleks aku emosi kepada si kakek. Tapi seketika itu si kakek menyuruhku melihat ke arah warung itu. Tiba-tiba tubuhku lemas. Jantungku seakan berhenti berdetak. Aku tidak percaya dengan apa yang ku lihat.

Warung yang aku lihat tadi menghilang, aku hanya melihat sebuah kebun pisang. Teman-teman pun hanya duduk di bawah pohon-pohon pisang. Dan yang lebih menyeramkan adalah di antara teman-temanku itu ada 3 sosok pocong yang berdiri di sela-sela temanku yang sedang berbincang!

Aku ingin sekali berteriak tetapi seakan-akan pita suaraku tidak berfungsi lagi, tak ada suara yang keluar dari mulutku.

“Panggil semua teman-temanmu!” ujar kakek itu.

Mendengar hal itu, seketika itu r?aku mengeluarkan handphone dan mengirim sms ke teman-teman berisi: “Cepat cabut dari warung, bawa motor lo dan samperin gw!”

Sejenak teman-temanku melihat ke arahku dan kakek itu, aku hanya mematung. Tubuhku gemetaran melihat pocong itu menatap ke arahku dan kakek itu. “Tenang saja, jangan takut,” ujar kakek itu melihatku gemetaran.

Untung saja teman-temanku menuruti ajakanku, mereka pun menghampiri. Teman-temanku pun bertanya-tanya, tetapi aku hanya terdiam. Kakek itu menyuruh teman-temanku memejamkan mata mereka, dan melihat warung tersebut. Benar saja, seketika itu teman-temanku melihat apa yang ku lihat. Mereka langsung terduduk lemas, ketiga pocong itu menatap dengan tajam ke arah mereka. Tatapan yang amat mengerikan!

Aku dan teman-teman gemetaran. Tetapi kakek itu terlihat sangat tenang. Tiba-tiba saja pocong itu menghilang! Kakek itu langsung mengajakku dan teman-teman meninggalkan tempat itu dan mengajak ke rumahnya. Begitu sampai, aku dan teman-teman didoakan oleh kakek itu. Tujuannya agar mereka tidak diikuti oleh penunggu kebun pisang itu dan juga agar mereka tenang.

Ketika keadaan sudah tenang, kakek itu memperkenalkan diri. Dia adalah kakek rosyid, seorang petani yang punya ilmu kebatinan. Kakek rosyid sudah memperhatikanku dan teman-teman ketika mereka sedang bertanya kepada seorang wanita, yang ternyata adalah sesosok kuntilanak dengan lidah menjulur panjang.

Saat itu kakek rosyid tau bahwa makhluk itu berniat jahat, oleh karena itu kakek rosyid mengikuti mereka. Menurut kakek rosyid, kawasan itu memang angker. Sudah banyak orang-orang yang dijahili oleh penghuninya, yaitu sesosok pocong. Mendengar hal itu aku seakan disambar petir, aku tidak menyangka bahwa wanita yang ku temui dan pemilik warung itu adalah makhluk halus!

Malam itu aku dan teman-teman menginap di rumah kakek rosyid. Barulah keesokan paginya kami berani pulang. Hingga beberapa hari setelah kejadian itu, aku masih merasa ada yang mengikuti, tapi untung saja itu tidak berlangsung lama. Hingga saat ini aku tidak bisa melupakan kejadian itu, dan aku menjadi trauma dengan kebun pisang.