Hotel Mewah Angker

KCH > Cerita Horor > Hotel Mewah Angker

Pak Hamzah, begitu orang biasa memanggilnya. Pak Hamzah adalah seorang satpam di salah satu hotel mewah terkenal di kota Jakarta. Setiap hari, Pak Hamzah berangkat dari rumahnya yang berada di pinggir rel kereta ke tempat kerjanya mengendarai motor bututnya. Hotel tempat kerja Pak Hamzah ini terkenal angker karena kisah kelam masa lalunya. Menurut warga sekitar, hotel ini bekas tempat pembunuhan masal saat para tamunya sedang merayakan sebuah acara pesta pernikahan.

Orang-orang yang datang ke acara pesta pernikahan ini kebanyakan dari golongan atas sehingga mereka datang ke hotel mengendarai mobil-mobil mewah. Setelah kejadian itu, hotel mewah itu di tinggalkan selama beberapa bulan sampai seorang pengusaha kaya raya membelinya dan merenovasinya menjadi baru kembali. Sampai sekarang, hotel itu masih banyak di datangi tamu-tamu dari golongan atas sama seperti dahulu beberapa tahun yang lalu.

“Pak Hamzah, besok bapak jadwal shift malam, ya?” tanya seorang teman kerjanya yang juga seorang satpam dan hari ini se-shift dengan Pak Hamzah, namanya Pak Toni.
“Iya pak, besok saya shift malam berdua dengan Pak Syarif,” jawab Pak Hamzah.

Read Another Stories:

“Berdua saja, pak? Hati-hati lho, pak! Bapak tahu kan kalau malam di sini seram banget, apalagi mengingat kisah beberapa tahun lalu yang terjadi pada malam hari juga” kata Pak Toni pada siang hari itu saat mereka sedang minum kopi bersama di pos satpam.
“Ah masa sih, pak? Selama saya shift malam saya tidak pernah mengalami hal apa pun!” jawab Pak Hamzah menepis rasa takut.

“Ya kalau bapak tidak percaya tidak masalah, mungkin bapak memang belum pernah mengalaminya. Tapi banyak satpam dan petugas di hotel ini yang sudah mengalami kejadian aneh saat shift malam, pokoknya hati-hati saja, pak! Jangan lupa beritahu Pak Syarif juga untuk berhati-hati, ya, pak! Saya mau ke toilet dulu” ujar Pak Toni menutup pembicaraan dan menuju toilet.

Pak Hamzah hanya terdiam dengan perkataan Pak Toni. Ia juga menjadi sedikit takut. Saat jadwal shift siangnya sudah selesai untuk hari ini, Pak Hamzah menaiki motornya untuk kembali pulang ke rumah. Keesokan harinya, Pak Hamzah bangun pagi hari dan siang harinya tidur yang nyenyak untuk shift malamnya nanti.

Malam harinya, Pak Hamzah bersiap dan berangkat ke hotel tempat kerjanya mengendarai motor bersama Pak Syarif karena rumah mereka berdekatan. Saat di jalan dekat hotel, Pak Syarif seperti terkejut dan wajahnya menjadi pucat. Pak Hamzah yang melihatnya dari kaca spion menanyakan ada apa. Pak Syarif tidak mengatakan sepatah kata pun.

Sehingga membuat Pak Hamzah juga ketakutan dan melajukan motornya lebih cepat agar cepat sampai ke hotel. Sesampainya di hotel, hotel tampak sepi tidak seperti biasanya. Tidak terlihat banyak tamu yang datang malam itu. Mereka langsung saja ke pos satpam dan duduk-duduk sambil melihat bintang-bintang di langit.

“Nanti malam kita patroli keliling hotel, ya, pak!” ingat Pak Syarif.
“Iya, pak. Oh, iya, kemarin saya kan satu shift dengan Pak Toni, dia mengingatkan untuk berhati-hati saat berjaga shift malam. Beliau kan sudah lama bekerja di sini, bapak tahu kan kisah masa lalu hotel ini?” kata Pak Hamzah.
“Tidak, pak, saya kan baru sebulan bekerja di sini, memangnya apa?” Pak Syarif balik bertanya.
“Nanti saja deh, pak, kapan-kapan, kalau berdua gini saja kayaknya nggak enak, deh. Oh, iya, pak, tadi kenapa ketakutan saat di jalan dekat sini? Apa bapak melihat sesuatu?” tanya Pak Hamzah.
“Ehm, kita ke kedai kopi di sana dulu aja yuk, pak! Nanti saya beritahu di sana” kata Pak Syarif bangkit berdiri.

Pak Hamzah mengangguk dan mereka berjalan menuju kedai kopi di samping hotel yang tidak jauh dari pos satpam. Sesampainya di kedai kopi itu, mereka memesan masing-masing secangkir kopi dan meminumnya sembari mengobrol. Di kedai itu, hanya ada mereka dan seorang ibu penjual kopi.

“Jadi tadi di pinggir jalan itu, saya melihat seorang wanita hendak menyeberang jalan menuju hotel. Seketika dia menghilang setelah sampai di seberang jalan itu. Wanita itu terlihat pucat dengan menggandeng seorang anak kecil” cerita Pak Syarif pelan membuat bulu kuduk Pak Hamzah berdiri.

Meski bercerita pelan, ibu pemilik kedai mendengarnya dan menanggapinya. Namanya Bu Minah.

“Di jalan dekat sini memang banyak kejadian aneh, pak. Sudah banyak orang yang melihatnya sendiri. Makanya kalau lewat sini banyak-banyak baca doa, deh!” kata Bu Minah sambil meracik bumbu mie yang di pesan seseorang yang baru saja datang ke kedai itu.
“Wah, begitu, ya, bu? Saya hanya tahu kisah masa lalu hotel ini saja, tapi saya tidak tahu kalau jalanan di sekitarnya juga angker,” jawab Pak Hamzah sambil menyeruput tegukan kopi terakhirnya.

Tak terasa jam sudah menunjukkan pukul 23.00 malam. Pak Hamzah dan Pak Syarif pamit untuk kembali ke pos satpam. Di pos satpam.

“Kita langsung patroli saja nih, pak?” tanya Pak Syarif pada Pak Hamzah.
“Iya pak, mumpung belum terlalu malam, nanti kita kembali pukul 00.00, ya! Saya ke sebelah barat hotel dan bapak ke sebelah timur. Kalau terjadi sesuatu kita segera ke pos satpam, ya, pak!” kata Pak Hamzah.
“Baik, pak!” jawab Pak Syarif.

Mereka segera patroli ke tempat masing-masing. Sebelah barat hotel adalah basement mobil dan motor. Sedangkan sebelah timur adalah taman dan kolam renang hotel. Saat patroli, seperti biasanya keadaan hotel sepi. Tapi malam itu entah kenapa sangat sepi tidak seperti biasanya. Hanya ada beberapa motor dan mobil milik pegawai hotel yang hendak pulang ke rumah mereka. Di basement Pak Hamzah bertemu dengan salah satu manager hotel yang bernama Pak Irwan. Dia baru saja hendak pulang ke rumahnya pada pukul 23.10.

“Halo, Pak Irwan. Baru mau pulang nih? Tumben lembur, pak,” sapa Pak Hamzah pada Pak Irwan di basement mobil, Pak Irwan terlihat baru saja hendak memasuki mobilnya.
“Iya nih, pak, karena kemarin saya libur jadi hari ini di suruh lembur oleh pak bos. Malam ini Pak Hamzah patroli dengan siapa?” jelas Pak Irwan sekaligus bertanya.
“Oh, malam ini saya satu shift dengan Pak Syarif. Sekarang beliau sedang patroli di sebelah timur hotel. Tepatnya di dekat kolam renang kalau tidak salah,” jawab Pak Hamzah.

“Wah, di situ, ya? Pak Syarif harus hati-hati saja sih. Dia kan anak baru, jadi belum tahu kisah masa lalu hotel ini. Bapak tahu kan dulu kolam renang hotel itu di pakai untuk membuang para mayat korban pembunuhan?” kata Pak Irwan pelan.
“I..iya pak, saya belum memberitahu Pak Syarif. Mungkin nanti beliau akan tahu sendiri,” jawab Pak Hamzah gugup karena menjadi takut.
“Ya sudah kalau begitu, pak, saya pulang duluan, ya. Tetap waspada saja, pak!” ingat Pak Irwan sambil memasuki mobilnya.

Pak Hamzah hanya membalasnya dengan senyuman tipis dan melambaikan tangannya. Beliau kembali berpatroli memasuki basement yang lebih gelap dan dalam. Tiba-tiba terdengar suara teriakan laki-laki dewasa dari arah luar basement. Pak Hamzah terkejut dan segera berlari menuju asal suara itu karena suara teriakannya mirip suara Pak Syarif. Pak Hamzah memeriksanya ke taman yang berada tidak jauh dari kolam renang. Dan benar saja, ia melihat Pak Syarif duduk di bangku taman dengan wajahnya yang pucat dan ketakutan.

“Pak Syarif, kau kah itu? Ada apa, pak?” tanya Pak Hamzah was-was sambil mendekati Pak Syarif dan duduk di sampingnya.
“Ta.. tadi, saya melihat orang yang masih berenang malam-malam begini di kolam renang. Tetapi orang itu perempuan berambut panjang dan wajahnya pucat sekali. Kalau bapak tidak percaya bapak bisa periksa sendiri!” ujar Pak Syarif gugup membuat Pak Hamzah terkejut juga ketakutan.

“Eeh… Ah itu sudah biasa kok, pak. Mungkin mereka ingin memperkenalkan dirinya pada bapak karena bapak kan anak baru di sini. Hampir semua orang di sini baik tamu atau pun karyawan pernah mengalami hal-hal mistis, pak!” jelas Pak Hamzah pelan.
“Oh, begitu, ya, pak? Kalau begitu kita patroli bersama saja, ya, pak!” ujar Pak Syarif.
“Baik, pak. Tadi saya sedang patroli di basement dan bertemu dengan Pak Irwan. Beliau baru saja akan pulang. Tetapi belum semua bagian basement saya telusuri, jadi ayo kita ke basement lagi untuk patroli bersama!” ujar Pak Hamzah sambil menuju basement.

Di basement, sudah tampak sepi karena jam sudah menunjukkan pukul 23.25. Hampir jam setengah dua belas malam!

“Setelah patroli di basement ini kita langsung kembali saja, ya, pak! Perasaan saya sudah nggak enak nih,” kata Pak Syarif gugup.
“Iya, pak, saya juga sudah merasa aneh” jawab Pak Hamzah ketika mereka sudah berada di dalam basement.
“Aduh, ada-ada saja, nih! Saya kebelet buang air kecil. Temani saya ke toilet di ujung basement itu dulu, yuk, pak! Bapak boleh tunggu di luar saja,” kata Pak Hamzah sambil berlari kecil menuju toilet pria itu.

Pak Syarif mengiyakan dan mereka sampai di toilet itu.

“Tunggu di sini dulu, ya, pak! Sebentar saja,” ujar Pak Hamzah sambil buru-buru masuk ke dalam toilet.

Pak Syarif menunggu di luar dengan was-was bercampur dengan rasa takut juga. 5 menit kemudian Pak Hamzah keluar dari dalam toilet.

“Sudah selesai, pak? Syukurlah!” kata Pak Syarif tidak takut lagi.

Namun dia juga merasa aneh mengapa Pak Hamzah cepat sekali keluar dari toilet. Pak Hamzah tidak menjawab pertanyaan Pak Syarif. Matanya menatap dengan tatapan kosong ke arah jalanan basement.

“Pak, ada apa? Apa Anda baik-baik saja?” tanya Pak Syarif khawatir.

Namun Pak Hamzah diam saja dan menunjuk ke arah dalam toilet. Gerakan tubuhnya kaku seperti robot, bukan seperti manusia normal. Pak Syarif menengok ke arah yang di tunjuk Pak Hamzah namun tidak ada apa-apa. Ia pun menjadi penasaran dan masuk ke dalam toilet yang tadi di gunakan Pak Hamzah. Di pintu toiletnya tertulis bahwa tidak boleh ada seorang pun yang masuk ke dalam toilet itu lagi karena sudah rusak dan sudah lama di tutup.

“Lho, pak? Di sini kan tertulis toiletnya tidak boleh di gunakan lagi, bapak tidak membaca tulisannya dulu tadi?” tanya Pak Syarif tanpa membalikkan badannya ke arah Pak Hamzah yang berada di belakangnya.

Tiba-tiba.

“Aakkhh, a..da a..pa i..ni, pak?” jerit Pak Syarif kesakitan karena di tusuk seseorang di punggungnya yang tidak lain adalah Pak Hamzah.

Akibatnya Pak Syarif mengeluarkan banyak darah dan nafasnya tersengal-sengal. Ternyata Pak Hamzah di rasuki jin jahat penunggu toilet angker itu. Akibatnya ia kesurupan dan tidak sadarkan diri sampai akhirnya meninggal dunia bersama Pak Syarif. Mayat mereka berdua di temukan oleh satpam lain keesokan harinya dan segera di bawa ke rumah sakit terdekat untuk di otopsi. Mengenaskan sekali akhir hidup mereka sebagai seorang satpam penjaga hotel mewah angker.

IG: @zhrhkmla
ID Line: kamila_akmal