Kacamata Klasik

Home > Cerita Horor > Kacamata Klasik – 463 reads

Kalian pasti orang-orang yang sangat beruntung, bisa tinggal dengan orang yang kalian sayangi, tidak seperti diriku.

Aku tinggal dengan nenekku, umurnya sekitar 60 tahun tetapi dia sangat cerewet sekali dan kadang ia juga bertindak kasar padaku. Yang menemaniku dikamar ini hanyalah boneka bayi yang ia berikan padaku 10 tahun yang lalu, boneka ini sangat lusuh tetapi aku senang ia memiliki bentuk yang hampir mirip dengan bayi sungguhan.

Suatu hari nenekku menyuruh membersihkan gudang, uhhh … gudang ini sangat berdebu. Mau tidak mau aku harus membersihkannya walaupun aku bersin berkali-kali didalam ruangan tersebut.

Read Another Stories:

Saat aku membersihkan ruangan tersebut mataku tertuju kepada sebuah box kayu yang berada dipojokan. Dengan rasa penasaran aku membawanya ke kamarku, tentu saja setelah aku membersihkan gudang sialan itu.

Sesampainya dikamar aku membuka kotak tersebut, banyak benda didalam kotak tersebut tetapi aku lebih tertarik kepada sebuah kacamata klasik.

“Wah ternyata cocok juga dengan wajahku” pikirku dalam hati sambil bercermin, aku merasa nyaman dan aku terus menggunakan kacamata tersebut.

“Annie .. aku akan pergi ke rumah paman Josh, tolong bersihkan halaman belakang!” suara nenekku dari teras rumah.

Aku mendengarnya tetapi fokusku tertuju kepada benda-benda yang ada didalam kotak itu. Ada sebuah buku tua dan juga beberapa botol kecil cairan yang berlabel.

“Aneh sekali” pikirku.

Setelah selesai dengan kotak tersebut dengan rasa malas aku keluar dari ruangan. Aku mendengar suara nenek sedang berbicara dengan seorang wanita.

“Nenek bukankah kau tadi pergi?” kataku tetapi kedua dari mereka tidak merespon, seolah aku tidak ada.

Aku dapat mendengar nada bicara mereka mulai tinggi dan nenek terlihat murka. Sontak ia mencabut pisau yang ada disampingnya dan menusukkannya ke leher wanita tersebut.

Aku kaget dan berteriak hingga kacamataku terjatuh. Tetapi semuanya kosong saat aku melihatnya lagi. Apakah ada sesuatu dengan kacamata klasik ini? Pikiranku semakin mengada-ada. Aku menenangkan diriku, mencoba kembali menggunakan kacamata itu.

Saat kugunakan kembali kini kulihat nenek menarik jasad wanita tersebut. Darah segar berceceran di lantai, urghh! Aku merasa mual. Aku mengikutinya hingga ke halaman belakang, disitu nenek mencabut kalungnya dan kemudian menguburnya.

Aku dapat melihat semua detailnya. Selesai mengubur jasad tersebut ku ikuti nenek kembali ke dalam rumah, dia membuat minuman dan mencampurkan beberapa tetes cairan, entahlah. Aku tak tahu cairan apa itu. Kemudian ia mengetuk pintu kamar, seorang anak kecil keluar dari ruangan tersebut.

Astagaaa!! Itu adalah diriku saat masih kecil, dengan mata bengkak dan masih menangis membukakan pintu kamar untuk sang nenek. Aku dapat melihat nenek memeluk tubuh kecilku dan berkata.

“Sudah, tidak apa-apa .. ibumu telah pergi ke tempat yang jauh, jangan takut karena disini ada aku (nenek)”.

Lalu ia memakaikan aku kalung kemudian ia menyuruhku untuk minum, beberapa saat kemudian aku pingsan.

Aku melepas kacamataku dan tanpa ku sadari air mataku telah mengalir, aku berlari ke kamarku, menangis dan membuat sebuah surat untuk nenek. Saat pulang nenek menemukan sebuah surat kecil terlipat di meja dapurnya.

“Nenek maafkan aku harus pergi dan mungkin kita tidak bisa bertemu lagi. Aku sangat sedih nenek mengetahui semua yang terjadi sebelum ini. Aku juga sedih harus meninggalkan nenek sendirian, kelelahan.

Apa sebenarnya yang terjadi nenek, aku sudah tau semuanya dan aku telah memberi arsenik pada surat ini. Lembaran surat ini lengket saat dibuka, kan? Apakah nenek merasa lelah? Itu karena nenek telah menghirup zat ini dan sekarang otot-otot diseluruh tubuh nenek mulai mati. Jantung nenek tak mampu lagi berdetak. Dan nenek akan merasakan sakit yang luar biasa sebelum nenek mati.

Terima kasih nek … Terima kasih telah memberikan kalung ibuku kepada diriku.”

Di saat itu Annie hanya tersenyum melihat jasad neneknya.