Mama Tiri

KCH > Cerita Horor > Mama Tiri

Malam semakin larut, ketika Ayah tak pernah pulang hubunganku dengan nenek sihir ini semakin mencekam. Entah apa alasannya, Ayah bisa memilihnya sebagai ibu baruku, yang jelas tak ada niat baik sedikit pun dari wajah itu. Aku melihat Alice (Mama tiriku) sedang memotong sesuatu di dapur, caranya memainkan pisau sungguh mengerikan. Aku berjalan mengendap-endap di belakangnya, karena hanya dapur ini satu-satunya akses menuju kamarku.

“Flowrissa!”

Sial dia mengetahui keberadaanku, “Iya Ma?”

Read Another Stories:

“Makan malam sudah siap, makanlah dulu! Lalu bergegas tidur.”

Aku langsung mengarahkan langkah menuju meja makan, ku edarkan pandanganku, sama sekali tak ku temukan adanya daging yang terlihat sedang dia masak tadi. “Lalu daging apa yang dia potong tadi?”

“Ada apa Flow?” Suara itu membuatku tersentak kaget.

“Tidak Ma.”

“Tak ada daging untuk makan malam, itu hanya membuat badanmu gemuk. Makanlah, kemudian lekas masuk kamar untuk beristirhat!” Perintahnya sambil mencuci piring.

Semua makanan tersebut telah masuk mengisi perut yang sedari tadi memang masih kosong. Tanpa pikir panjang, aku bergegas masuk kamar dan mulai mencoba memejamkan mata.

“AAAAARRRRRGGGGHHHHHH!!!” Terdengar suara teriakan dari kejauhan.

Coba ku cari sumber suara tersebut dengan membuka korden jendela kamar, terlihat ada seorang wanita yang mengendong kantong berwarna hitam sambil memeggang senter di tangannya.

“Siapa dia?” Pekik suara hatiku sembari sesekali menelan saliva karena merasa takut melihat sosok menyeramkan itu.

Terlihat langkah tersebut menuju rumahku. Aku memberanikan diri menuruni tangga, terlihat Alice, sedang terburu-buru memasuki dapur. Anehnya dia sedang memakai make up tebal dengan polesan lipstik merah merekah di bibirnya, tak seperti Alice di hari-hari biasa yang selalu tampil dengan make up natural. Wajahnya mulai menyeringai, melukiskan senyum dengan penuh kepuasan.

“Apakah dia telah membunuh seseorang? Tapi kenapa dia melakukan itu? Apakah yang dibawa adalah kantong berisi mayat?” Pertanyaan aneh mulai timbul dalam benakku.

Lalu terlihat dia menyeret kantong besar berwarna hitam itu. Perlahan-lahan mulai dibukanya, ternyata terlihat sosok wanita yang aku kenal. Wanita yang berada di dalamnya adalah Maudy, tetangga kami yang memang sehari-hari bersikap genit kepada Papa. Setega itukah Mama Alice
membunuhnya?

Aku mulai ketakutan, sebisa mungkin tak mengeluarkan suara sedikit pun, walau terdengar jelas tebasan pisau, sepertinya tubuh yang telah terbujur kaku itu akan dicincang habis olehnya. Ternyata Alice bukan sosok wanita kalem yang biasa aku kenal, ada wujud setan di dalam dirinya ketika dia tampil dengan polesan lipstik merah.

Seperti apa nasibku nanti? Apakah Papa sudah mengetahui sikap bengis di dalam diri Alice? Akhirnya aku berhasil kembali ke kamar tanpa menimbulkan suara sedikit pun. Mata ini tak bisa terpejam, walaupun susah payah aku mencobanya.

Pagi harinya, Mama Alice sedang memasak di dapur seperti biasanya. Dia menyapaku, ini pertama kalinya jatungku berdetak kencang ketika melihatnya.

“Pagi sayang? Bagaimana tidurmu malam ini?” tanyanya sambil mengukir senyum di wajahnya.

“Nyenyak sekali. Aku kangen Papa. Kapan Papa pulang?” Aku berbohong untuk mengalihkan pembicaraan.

“Mungkin minggu depan, semalam dia menelepon, tapi kami tak sempat bicara banyak karena kondisi sinyal yang buruk.” Dia berkata sambil meletakan semangkok sup daging di hadapanku.

“Makanlah, itu sup dari daging segar yang baru saja aku dapatkan!” Perintahnya.

“Maaf Ma, aku lagi diet. Tadi berat badanku naik 1 kilo.” Jelas aku menolaknya, karena itu pasti daging Tante Maudy. Sebab, keluarga kami harus benar-benar irit, karena jatah bulanan yang hampir habis dan Papa pun masih akan pulang beberapa hari lagi.

“Aku akan minum susu saja”. Jawabku, sebenarnya perutku merasa mual ketika melihat daging itu. Tapi untungnya berhasil ku tahan.

“Iya, tapi setidaknya makan rotinya juga sebelum ke kampus.” Aku mengiyakan sambil membawa beberapa lembar roti tawar untukku menuju kampus.

Ketika berjalan keluar rumah, aku amati sekeliling. Jarak rumah kami dengan tetangga cukup berjauhan. Walaupun ada banyak rumah di sini, tapi penghuninya hanya beberapa orang saja, karena perumahan ini masih baru, sehingga masih banyak rumah tak berpenghuni.

Untuk aksinya semalam, apakah Polisi tak bisa mengatasinya? Pasalnya, terlihat situasi aman-aman saja seperti tak ada apa pun. Padahal ada satu penghuni perumahan ini yang menjadi korban kesadisan Alice. Tapi, sepertinya hanya aku, Alice dan Tuhan saja yang mengetahui kejadian tersebut.

Aku langkahkan kaki menuju halte bus. Sesampainya di sana teringat kisah 2 tahun yang lalu, di saat aku kehilangan Ibu dan saudara perempuanku karena kebakaran hebat. Saat itulah aku mengalami depresi berat, sehingga Papa terpaksa membawaku ke Rumah Sakit Jiwa.

4 Mei 2018

“Kamu boleh pulang Flowrissa, kemasi barang-barang, sebentar lagi Papamu akan menjemputmu” Kata dokter yang merawatku selama di RSJ.

“Dokter, saya punya pertanyaan. Ketika saya sehat selalu ada saja bayangan masa lalu yang memilukan. Terlihat Mama dan Jessica berteriak memanggil nama saya. Mereka meminta tolong dan mengatakan sesuatu. Tapi saya tak ingat apa yang mereka katakan. Ketika mencoba mengingatnya kepala ini terasa pusing dan berat.”

“Jangan dipaksakan Flow, lama-kelamaan kamu akan mengingatnya secara perlahan. Akibat insiden kebakaran itu, terjadi benturan keras di kepalamu. Jadi, wajar apabila terjadi beberapa hal yang tak bisa kamu ingat dengan baik sekarang. Tapi kamu sudah mengikhlaskan kepergian mendiang Mama dan Kakak perempuan mu kan?”

Aku mengangguk pelan, walau ada rasa rindu yang sangat berat untuk mereka. Tak lama kemudian Papa menjemputku menuju rumah baru, di sepanjang perjalanan Papa bercerita kepadaku, bahwa ada kejutan yang tengah ia persiapkan. Ya, kejutan itu adalah keberadaan Mama baruku Alice, karena Papa tak pernah memberitahuku bahwa dia telah menikah lagi.

Setelah pertemuan dan perkenalan awal kami, hubungan kami untuk Ibu tiri dan anak tiri berjalan baik. Walau dia baik, namun aku menyadari bahwa ada hal yang berbeda padanya. Entah apa?

Klakson bus membubarkan lamunanku mengenang masa lalu, aku masuk ke dalam bus mencari tempat duduk kosong. Sepanjang perjalanan aku memutuskan ingin mencari tahu seperti apa Mama Alice. Apa dia seorang psikopat? Aku harus benar-benar waspada dan setidaknya aku harus meminta bantuan. Tapi kepada siapa? Apakah kepada Papa? Apakah Papa akan percaya dengan setiap perkatanku?