Serangan Wabah Virus Zombie

Home > Cerita Horor > Serangan Wabah Virus Zombie – 500 reads

Saat yang paling ditunggu oleh seluruh siswa SMA/SMK di seluruh negeri ini, saat dimana kami dapat menyatakan suka cita dan kebebasan kami setelah 12 tahun bersekolah. Ya, 1 hari untuk 12 tahun.

1 hari yang menjadi gerbang pembatas antara masa pendidikan dan masa depan kami. Seperti biasa siswa siswi melakukan tradisi tahunan: konvoi, saling mewarnai dan memberi tanda tangan pada baju seragam. Baiklah, mungkin beberapa memilih memberikan seragamnya ke orang lain, tapi aku? Aku tentu saja melakukan tradisi tahunan tersebut.

Waw, sungguh hari yang penuh kenangan. Setiap sekolah di kota ini melakukan konvoi hingga kami semua bertemu di satu titik. Sebuah taman yang berbentuk lingkaran dan terletak di bagian selatan kota ini, ketika kami semua terkumpul maka terbentuklah lautan pelajar. Kami melambangkan kebahagiaan kami dengan goresan warna di baju yang kami kenakan, kegiatan tersebut berlangsung seharian.

Read Another Stories:

Matahari mulai terbenam, langit biru mengubah warnanya menjadi jingga. Sebagian dari kami memlilih untuk mengakhiri kebahagiaannya sekarang, sedangkan sebagian besar masih bersuka cita di titik ini. Di tengah keramaian tersebut aku melihat seorang siswa yang duduk terdiam di suatu sisi, dapat kulihat badannya bergetar dan air liurnya menetes membasahi aspal, pandanganku hanya terfokus padanya.

“Apa orang ini sedang sakit?” pikirku, beberapa siswa lain menghampiri dirinya, sedangkan aku melepaskan pandanganku. Mencoba kembali bersatu dengan suka cita.

Tiba-tiba kudengar suara teriakan di suatu sisi, aku menoleh ke sumber suara tersebut dan kulihat seorang siswi telah tersungkur di tanah dengan pundak yang penuh dengan … entahlah itu mungkin adalah cat kaleng? Atau darah?

Jantungku memompa lebih cepat, keringat mulai mengalir dari ujung kepalaku. Terlihat para siswa mulai lari berhamburan. Beberapa dari mereka menyerang satu sama lain, ya. Aku tau ini terdengar layaknya film zombie seperti World war Z atau 28 weeks later tetapi ini nyata!

Aku mulai berlari menjauh dari kerumunan, mencari tempat yang lebih aman. Di saat itu aku mendengar seseorang memanggilku.

“Hey! Cepat kemari!” teriak seorang siswa dibalik pintu kaca sebuah bangunan, tanpa pikir panjang aku berlari sekuat tenaga menuju bangunan itu. Untungnya aku berhasil.

Kami berempat terjebak di dalam bangunan tersebut, merasa bingung dan ketakutan. Seorang siswa mengintip dari sela-sela lemari yang kami gunakan untuk memblokade pintu masuk.

“Sial! Apa yang harus kita lakukan?!” bentaknya sembari memukul dinding beton, dapat kulihat tubuhnya bergetar. Siswa lain yang terjebak bersamaku disini mencoba mencari solusi, namun hasilnya nihil. Hari sudah semakin malam dan listrik di tempat ini tidak berfungsi, aku berpikir bahwa virus, wabah atau apalah itu. Ini telah meluas ke seluruh penjuru kota.

Aku mulai menangis, berharap semua ini hanyalah bagian dari mimpi buruk. Berharap aku segera terbangun, tapi tak bisa dipungkiri lagi. Ini semua benar-benar terjadi. Bruk! nampaknya pintu kaca telah ditabrak oleh salah satu dari makhluk itu. Berawal dari retak kecil dan akhirnya kaca itu pecah. Hanya lemari besi itu yang dapat menahan untuk beberapa saat, di waktu yang sama kami panik dan berlari ke bagian atas bangunan tersebut, sayangnya salah satu dari kami tidak berhasil, dia digigit saat mencoba menahan lemari tersebut.

Kini kami bertiga berada di puncak bangunan tersebut, terlihat kebakaran dan kerusuhan dimana-mana. Kami benar-benar terjebak, tidak ada jalan keluar lain kecuali ada helikopter yang ingin menjemput kami. Aku membuat tulisan “HELP” di lantai dari cat yang aku temukan di samping pintu dan berdoa agar ada helikopter yang melintas.

Hanya ada aku, Sherly, dan Mark di atas sini. Ya, kami baru mengenal satu sama lain, bagaimana pun kami bertiga tak ingin menyerah. Hingga pada saat itu fisik Mark melemah dan dia terkena demam, aku dan Sherly mencoba merawatnya namun kami tak punya obat-obatan. Hingga akhirnya Mark meninggal.

Nampaknya makhluk-makhluk itu sudah berhasil masuk kedalam bangunan, hanya pintu besi yang terlilit rantai ini menjadi pembatas antara kami dan mereka. Sherly terus menangis dan aku memantau keadaan sekitar, berharap ada sesuatu yang bisa dimanfaatkan.

Terlihat dari jauh nampak sebuah helikopter mendekat ke arah kami, mengetahui hal tersebut aku sangat bahagia. Aku berteriak sekencang mungkin berharap mereka mau mengevakuasi kami. Namun ketika aku menoleh ke belakang, mencoba memberitahu Sherly.

Ku lihat Mark berdiri sekitar 5 langkah dibelakang Sherly. Senyumku seketika berubah menjadi tangisan, aku melihat wajah pucat Mark dengan mulutnya yang penuh cairan hitam mulai menampakkan giginya.

Dengan sekejap saja Mark menerkam Sherly layaknya sang raja hutan yang telah menangkap mangsanya. Ku lihat darah segar mengalir deras dari tenggorokan Sherly yang bolong. Lalu Mark bangkit menatapku, oh God! Dia berlari dan menerkam diriku. Aku mencoba melawan tapi sia-sia, dapat kurasakan sakitnya saat dia menggerogoti dan menghamburkan isi perutku.

5 detik, kurasakan sakit yang teramat sangat.
10 detik, jantungku mulai melemah.
15 detik kemudian pandanganku menjadi gelap total.