Pesugihan Penglaris Dagangan

Home > Cerita Mistis > Pesugihan Penglaris Dagangan – 62 reads

Agar nasi goreng dagangannya laris, pelaku pesugihan ini harus mengentuti (kentut) semua barang dagangannya sebelum dia jual. Menjelang ajal, perut si pelaku pesugihan itu membesar seperti perut wanita hamil, dan dia terus mengeluarkan kotoran. Anehnya, ajal menjemputnya persis di saat menjelang sahur di hari pertama bulan Ramadhan.

Kisah ini merupakan sebuah kejadian nyata yang menimpa keluarga pedagang nasi goreng terkenal di kotaku. Sudah hampir sebulan Wak Dirman terbaring lemah di tempat tidurnya. Tubuhnya kurus kering. Kedua kaki dan tangannya tinggal tulang terbungkus kulit, tapi perutnya membesar seperti wanita hamil sembilan bulan.

Secara fisik Wak Dirman seperti korban busung lapar. Tidak seperti lazimnya orang sakit, Wak Dirman tidak dapat berbaring. Dia hanya bisa duduk dengan disandari bantal di belakang punggungnya. Hal ini dilakukan karena setiap berbaring nafasnya sesak, seolah-olah ada bongkahan batu besar yang menghimpit dadanya.

Read Another Stories:

Tuntunan kalimah Syahadat dan lafadz-lafadz Ilaiyah yang dibisikkan istri, anak dan kerabatnya sama sekali tidak dihiraukannya. Dari bibirnya hanya terdengar suara rintihan kesakitan.

Keluarganya hanya bisa menangis melihat penderitaan orang yang dicintainya yang begitu memilukan. Sedangkan istrinya, Wak Atik, terpekur di ujung tempat tidur sambil mengusap lembut kaki Wak Dirman, suaminya.

Upaya pengobatan sudah dilakukan. Hasil diagnosa dokter menyebutkan bahwa Wak Dirman mengalami penyumbatan usus. Memang, sudah sepuluh hari dia tidak bisa buang air besar, bahkan buang angin juga tidak bisa. Mungkin karena itulah lama kelamaan perutnya membesar.

Dokter sudah berupaya dengan memberikan resep obat-obatan pencahar perut. Namun sepertinya kotoran di usus Wak Dirman mampet dan menumpuk hingga membuat perutnya kian besar dan nafasnya sesak.

Tetangga yang menyaksikan penderitaan Wak Dirman hanya bisa mengusap dada dan banyak mengucapkan istighfar. Di antara mereka bahkan bertanya-tanya, dosa apa sebenarnya yang pernah diperbuat Wak Dirman semasa mudanya, sehingga dia mengalami penyakit itu?

Maklum saja, setahu mereka, sosok Wak Dirman adalah seorang pedagang warung nasi goreng yang cukup berhasil. Dan selama ini Wak Dirman terkenal sebagai seorang yang sangat dermawan.

Dari hasil penjualan warung nasi gorengnya, Wak dirman memiliki rumah yang megah, sawah yang tersebar di beberapa tempat, serta beberapa mobil angkutan disamping mobil pribadinya. Di masa tuanya, Wak Dirman cukup kaya untuk ukuran orang kampung.

Namun para tetangganya tidak mengetahui bahwa sesungguhnya Wak Dirman pernah melakukan perjanjian gaib dengan penghuni goa keramat di wilayah Jawa Timur. Hanya sahabatnya saja yang tahu rahasia ini. Wak Jafar, demikian nama sang sahabat. Dari penuturan Wak Jafar inilah terungkap perjalanan hidup Wak Dirman di masa mudanya.

“Dirman muda adalah seorang yang taat beribadah dan rajin bekerja. Segala upaya telah dilakukan untuk mengangkat ekonomi keluarganya yang miskin. Dirman yang menikahi Atikah terpaksa berganti-ganti pekerjaan, mulai dari buruh bangunan, buruh bongkar muat di pelabuhan, hingga penarik becak pernah dijalaninya”, tutur Wak Jafar mulai bercerita.

Hingga memiliki tiga orang anak, kehidupan Dirman belum berubah juga. Upah bekerjanya habis untuk kebutuhan anak dan istrinya. Tak jarang keluarga kecil itu harus makan nasi dengan lauk ikan asin atau kerupuk saja.

Kemalangan hidup makin dirasakan Dirman saat anak ketiganya yang bernama Agus terserang penyakit kanser mata. Awalnya, Agus yang berumur empat tahun ini bermain-main dengan temannya.

Tanpa sengaja mata Agus terkena pelor peluru plastik dari senapan angin temannya. Karena tiada uang, Dirman hanya membelikan Agus obat tetes mata saja. Tapi hal ini berakibat fatal, mata Agus menjadi merah dan bengkak.

Sebagai sahabat, Jafar muda manyarankan Dirman membawa anaknya ke dokter mata.

”Dirman, ayolah kita bawa Agus ke dokter mata! Kulihat anak itu setiap hari menangis menahankan matanya yang semakin hari semakin membengkak. Aku takut nanti anak itu menjadi buta”, demikian kata Wak Jafar kala itu.

“Jafar, aku sebenarnya kasihan melihat Agus. Tapi kau tahukan, dari mana aku punya uang? Untuk makan saja kami sering ngutang di warung dan akhir bulan setelah gajian baru dibayar”, keluh Dirman.

Karena kasihan, Wak Jafar dan istrinya membawa Agus ke dokter. Hasil diagnosa dokter menyimpulkan, mata Agus harus dioperasi dan retina mata kanannya harus dibuang untuk mencegah sel-sel kanker menyebar ke organ yang lain. Keadaan ini tentu saja membuat Dirman dan istrinya shock.

“Nah, pikiran Dirman yang kalut itu membawanya berkenalan dengan dunia hitam. Lewat temannya sesama buruh, Dirman diberitahu lokasi pesugihan di salah satu gunung di Jawa Timur,” ungkap Wak Jafar.

Dirman benar-benar sudah gelap mata. Yang ada dalam pikirannya hanya mendapatkan uang banyak untuk berobat anaknya dan merubah kehidupan mereka yang miskin.

Saat rencana ini diberitahukan pada sahabatnya, Jafar menasehati Dirman.

“Ingat Man, bersekutu dengan siluman pada akhirnya akan membawa kesengsaraan!“

“Biarlah aku tetap meneruskan keinginanku apa pun itu resikonya. Daripada aku terus-terusan menderita kemiskinan seperti ini. Hutang untuk berobat Agus juga kian hari kian menumpuk. Kasihan anak dan istriku terus menderita. Kalau aku berhasil, aku kan bisa mengoperasikan mata Agus”, kilah Dirman.

Setelah menitipkan anak dan istrinya pada Jafar, Dirman berangkat ke Jawa Timur. Jafar yang mengantar kepergian Dirman ke Pelabuhan Belawan hanya dapat membekalinya dengan sedikit uang untuk makan. Sedangkan pada istrinya, Dirman mengatakan dikontrak sebagai buruh bangunan di salah satu perusahaan di Jawa Timur.

Setelah dua minggu kepergiannya, kejadian tragis menimpa keluarga Dirman. Anaknya Agus, tiba-tiba saja mengalami panas tinggi hingga kejang-kejang. Jafar serta istrinya, juga Atik istri Dirman, segera membawa Agus ke rumah sakit. Namun, nyawa anak ini tidak tertolong lagi.

Menurut dokter, mata Agus infeksi, sel-sel kanker itu sudah menyebar ke seluruh tubuhnya. Inilah yang menyebabkan kematian Agus.

Dalam pandangan masyarakat awam yang didukung oleh analisa medis, kematian Agus memang dikarenakan sakit kanser. Tidak demikian dalam pendangan alam gaib. Kematian Agus adalah keberhasilan Dirman bersekutu dengan penghuni gaib gunung di Jawa Timur itu.

Tanpa setahu siapa pun, Agus adalah tumbal Dirman untuk penghuni alam gaib pesugihan yang dipujanya.

Satu bulan kemudian, Dirman pulang ke kampungnya. Ketika diberitahu Atik bahwa anaknya, Agus meninggal, Dirman pura-pura menangis. Padahal di dalam hatinya dia tersenyum puas dengan hasil kerja pesugihannya.

Malamnya usai makan, Dirman menyerahkan segepok uang pada istrinya.

”Bu, ini aku ada sedikit uang dari hasil kerja di Jawa sana. Aku mau kita berubah dan mulai usaha baru, aku sudah capek jadi buruh bongkar muat”, kata Dirman berbohong.

“Astaga! Banyak sekali uang ini, mau dibuat usaha apa, Pak?”, tanya Atik.

“Ketika di Jawa sana, aku melihat seorang pedagang nasi goreng yang cukup berhasil.

Aku juga sempat bekerja dan belajar meracik bumbu padanya. Aku mau kita mencoba usaha tersebut”, jelas Dirman.

“Tapi apa kamu yakin kita mampu berjualan, karena selama ini kan kamu hanya buruh bongkar muat, Pak?“, ragu Atik.

“Bu, kamu harus membantu aku. Kita cari tempat berjualan di persimpangan yang banyak dilalui kendaraan. Untuk menarik pelanggan, harga nasi goreng yang kita jual lebih murah dari pedagang lain. Aku yakin kok, kita akan berhasil”, jelas Dirman.

Setelah mendapat tempat di simpang empat jalan, Dirman dan Atik mulai menggelar dagangannya. Satu persatu pembeli mulai berdatangan. Dalam beberapa bulan saja warung nasi goreng Dirman maju pesat.

Bagi pelanggan, nasi goreng Dirman memang sangat istimewa cita rasanya. Bahkan, setelah terkenal, Dirman mendapat julukan “Wak Jorok”.

Entah siapa yang memulai panggilan ini. Yang jelas Dirman lebih populer dengan sebutan ini. Atau mungkin juga karena setiap menggoreng nasi, Dirman selalu membiarkan nasi bertebaran di sekeliling penggorengan.

Tempat berjualannya juga kurang bersih. Sampah-sampah kulit telur atau kulit timun kerap berserakan.

Tapi anehnya, walaupun warungnya kurang bersih dan terlihat jorok, pembeli berduyun-duyun mampir di warung Dirman. Dan setiap hari dagangannya selalu laku keras.

“Kenyataan ini memang sempat mengherankan saya. Namun saya tidak berani menanyakan langsung kepada Dirman, sebab saya takut membuatnya tersinggung”, cerita Wak Jafar lagi.

Seiring dengan perkembangan kehidupan Dirman, Wak Jafar juga melihat ada perubahan yang mencolok pada sahabatnya itu. Walaupun Dirman sudah menjadi pedagang yang sukses, tapi penampilan fisiknya tidak berubah. Saat berdagang, Dirman kerap berpakaian kumal dengan kaos oblong dan celana yang berwarna hitam. Entah apa maksud Dirman berpakaian seperti itu.

Sampai pada suatu hari, Dirman menceritakan pada Jafar mengapa dia kerap berpakaian kumal.

“Aku harus berpakaian kumal karena itulah syarat dari pesugihanku. Siluman yang mendiami tubuhku berwujud makhluk tinggi besar, tubuhnya berbulu dan sangat bau. Lidahnya senantiasa menjulur meneteskan air liur yang berbau amis. Dan nasi goreng yang sering kutebarkan di sekitar penggorengan juga merupakan permintaan makhluk itu. Dia akan memakan remah-remah nasi goreng itu”, tutur Dirman.

Dirman juga bercerita bahwa untuk menarik pelanggan, sebelum menggelar dagangannya, semua bahan-bahan jualan itu harus dia kentuti. Dibantu makhluk sesembahannya, aroma udara kentut itu akan menyebar dan memanggil orang untuk antri membeli dagangannya. Dan mencuci beras untuk dimasak juga cukup satu kali saja, karena diyakini membuat rasa nasinya empuk dan enak.

Dirman menceritakan hal ini dengan harapan Jafar mau mengikuti jejaknya bersekutu dengan siluman. Tapi Jafar tetap pada pendiriannya. Bahwa bersekutu dengan iblis hanya akan membawa kesengsaraan. Neraka jahanam sudah menanti bila mati kelak.

“Terus terang saja, aku nggak mikirin mati, lagi pula siapa yang akan kenal aku di akhirat? Mumpung kita masih hidup, dimanfaatkan saja untuk mencari kekayaan. Kalau kita kaya, orang-orang juga akan hormat pada kita“, dalih Dirman.

Begitulah, bertahun-tahun kemudian keadaan keluarga Dirman semakin kaya. Namun kehidupan ekonomi anak-anaknya tergolong pas-pasan. Bahkan salah seorang anak Dirman menderita penyakit gila karena keinginannya menjadi prajurit TNI tidak kesampaian.

Entahlah, apakah ini akibat pesugihannya atau karena hukuman Allah?

Di akhir hayat Dirman, warung nasi gorengnya yang terkenal itu kehilangan seri bagi pelanggannya. Pertambahan umur telah membuat tenaga Dirman makin berkurang. Anak yang diharapkan menjadi penerus usahanya sudah menjadi gila pula.

Selain itu, berdirinya restoran siap saji di persimpangan dekat warung Dirman juga telah mematikan usaha nasi gorengnya. Pelanggan lebih memilih warung siap saji itu.

Memikirkan warung nasi gorengnya yang mati suri, membuat kesehatan Dirman makin memburuk, hingga dia terbaring lemah di tempat tidur dengan perut membusung dan nafas sesak, seperti keadaan yang diceritakan di atas.

Keadaan Dirman yang tak kunjung sembuh membuat keluarganya kehabisan akal. Sahabatnya, Wak Jafar menyarankan agar Dirman dibawa berobat ke orang pintar.

Siang menjelang awal Ramadhan itu Pak Uwo, dukun terkenal dari Deli Tua dibawa Wak Jafar untuk mengobati Dirman. Ketika melihat kondisi Dirman, Pak Uwo menghela nafas berat.

“Carikan saya daun kelor, sirih bertemu urat 10 lembar dan kain putih kira-kira setengah meter. Ambilkan air putih dan taruh dalam baskom!”, pinta Pak Uwo.

Pak Uwo lalu membaca doa-doa di hadapan Dirman. Setelah itu daun kelor dan sirih bertemu urat direndam pada air itu hingga malam hari. Tepat tengah malam, Pak Uwo memerciki daun kelor yang sudah direndam air doa-doa ke tubuh Wak Dirman, terutama ke perutnya yang membusung. Pusar Wak Dirman dan saluran pembuangan anus ditutup dengan daun sirih bertemu urat.

Aneh, seperti ada kekuatan gaib yang menggerakkan perpusaran angin di tubuh Wak Dirman, tidak berapa lama Wak Dirman merasa perutnya mulas. Setelah itu dia buang angin (kentut) yang mengeluarkan bau yang sangat busuk. Melihat Wak Dirman buang angin, Pak Uwo meminta kain putih.

Lalu Pak Uwo memiringkan tubuh Wak Dirman. Kain putih itu pun dibalutkan ke tangan Pak Uwo sambil membaca doa-doa. Pak Uwo seperti mengambil sesuatu dari anus Wak Dirman.

Semua mata sanak saudara tertuju pada tangan Pak Uwo. Karena Pak Uwo seperti bertarung dengan kekuatan yang tak kasat mata. Setelah mengeluarkan tenaga yang cukup hebat, Pak Uwo berhasil mengambil sebuah benda dari anus Wak Dirman dan membungkusnya dengan kain putih.

“Pak Uwo, apakah kami bisa melihat benda yang diambil dari anus suami saya?“, tanya Wak Atik, istri Wak Dirman.

“Kalau memang ibu tidak keberatan, saya akan perlihatkan, tapi setelah itu benda ini harus dibuang ke laut biar tidak disalahgunakan oleh orang lain”, jelas Pak Uwo.

Setelah membaca doa-doa, Pak Uwo membuka telapak tangannya yang terbungkus oleh kain putih. Saat dibentangkan, terdapat sebuah benda dari logam berwarna kuning. Bentuknya seperti kapsul besar, tapi memancarkan sinar warna keemasan.

“Ternyata masih ada orang yang memakai susuk peluru emas. Susuk ini sering digunakan oleh pedagang dari Pulau Jawa”, jelas Pak Uwo.

Sesudah itu Wak Dirman minta dibawa ke kamar mandi. Belum sampai kamar mandi, Wak Dirman sudah mengeluarkan kotoran yang sangat banyak dan berwarna kehitam-hitaman dan bau yang menyengat hidung. Usai buang air besar, Wak Dirman dimandikan Pak Uwo dengan dibantu anak dan kerabatnya.

Lalu dibaringkan di ruang tengah, dan ditunggui oleh sanak saudaranya. Pak Uwo sendiri melakukan ritual melarung susuk peluru emas itu ke laut yang jaraknya tidak begitu jauh dari rumah Wak Dirman.

Keesokan harinya, pas hari pertama puasa, terdengar berita tentang kematian Wak Dirman. Para tetangga, kerabat maupun pelanggan Wak Dirman turut melayat dan mengantarkannya hingga ke pekuburan.

Menurut berita yang tersiar, tiga bulan kemudian, rumah Wak Dirman yang megah itu musnah dilalap api, tak ada satu pun barang yang dapat diselamatkan, bahkan mobil yang terparkir di garasi juga musnah tanpa meninggalkan bekas.

Memang tidak ada korban jiwa, karena malam kejadian Wak Atik sedang berada di rumah anaknya. Hasil penyelidikan menyatakan kebakaran terjadi akibat arus pendek listrik.

Entahlah, apakah memang begitu adanya, atau karena ada kekuatan lain.