Terlalu sayang

Home > Cerita Mistis > Terlalu sayang – 303 reads

“Kebangetan! Masa gak ada yang dateng tilik/besuk to. Feri sakit gak ada yang nongol blas” ucap Om Gito suami dari bulekku Feriana adik dari ibuku.

Saat itu, suaminya sedang berkunjung dirumah Simbah, samping rumahku. Tapi hanya ada Bulek Siti dan Simbah saat itu. Sedangkan aku, jangan di tanya. Kalau siang hari selalu bersemedi di kamar, alias botik/bobok cantik. Lepas dzuhur, Bulek Siti menyampaikan ucapan dari Om Gito.

“Seandainya kalau tahu Feri sakit, pasti ya kesana to yo” ucap Bulek Siti padaku, merasa tak terima di marahin iparnya.

Read Another Stories:

“Ya sudah Bulek, besok minggu kita kesana, ajakin yang lainnya” kataku tak mau ambil pusing.

Minggu, lepas ashar kami berangkat ke Lampung Timur. Mendung menyertai perjalanan kami. Hanya aku dan Bulek Siti yang kesana. Keluarga lain, sibuk.

Sampai dirumahnya, kami kaget. Bulek feriana terbaring lemah di kasur lantai diruang TV rumahnya. Badannya menjadi kurus kering tak bertenaga. Sedih rasanya melihat kondisinya saat itu. Padahal baru dua minggu yang lalu, dia kerumahku dan makan dengan lahap bersamaku. Tapi setelah itu, katanya tidak pernah makan lagi. Hanya minum teh, roti dan susu hamil jika ada.

Iya, saat itu Bulekku sedang hamil. Sedang masa-masa nyidam yang berat, kami pikir itu hal wajar. Kami hibur dia, dan saat dia menatapku, aku takut.
Matanya seperti melotot ke arahku, mungkin efek kurus pikirku. Saking takut dan kagetnya, aku buang muka malas menatapnya saat dia bicara.

Selepas hari itu, kami sibuk dengan kehidupan kami sendiri. Kami pikir, Setelah kedatangan kami ke rumahnya, Bulek Feri mau makan. Karena Sindy anaknya mengirim pesan pada Bulek Siti begitu. Namun setelah baru beberapa hari lega, kami dapat kabar bahwa Bulek Feri masuk IGD. Namun apalah daya, kami memiliki keluarga masing-masing. Jadi tidak bisa membantu mengurusnya disana. Hanya simbah yang sudah tua renta ikut Om Gito pergi ke IGD sampai beberapa hari.

Saat sudah membaik, dan sudah pulang kerumahnya. Kami kembali kesana. Tapi dengan mengajak ibuku dan adiknya yang lain. Kondisi Bulek Feri, lebih memprihatinkan dari sebelumnya. Lebih kurus kering, tapi sudah bisa bangun dari tidurnya meski sebentar. Masa trimester kehamilan memang menyiksa, tapi ini lebih parah menurutku. Karena ini calon anak ke empatnya, tapi anak pertama keguguran.

‘Aku juga heran, kenapa banyak anak yang durhaka pada ibunya. Jika aku mengingat perjuangan seorang ibu dari masa hamil hingga bertaruh nyawa melahirkan’ ah tiba-tiba lamunanku buyar saat mendengar obrolan serius.

Selepas dari rumah Bulek Feri yang kedua kalinya. Kami belum mendapat kabar baik. Kondisinya masih sama, tidak mau makan hingga usia kehamilan masuk lima bulan. Sedangkan jika kehamilan normal, hanya tiga bulan saja, masa sulit. Mungkin ini calon bayi spesial.

Setelah beberapa minggu, barulah dapat kabar. Kalau sekarang sudah mulai makan, bahkan selera makannya melebihi hari biasa. Biasanya satu piring, ini dua piring setiap makan. Dan jika tidak dengan ikan, tidak mau makan. Sayurnya pun pilih-pilih, jika bukan sayur kangkung, tidak mau makan banyak. Katanya.

Setelah kabar itu, kami kesana kembali. Tapi untuk membantu membuat acara tasyakuran empat bulanan. Katanya, setelah berobat ke simbah dukun bayi itu syaratnya dan entah apalagi.

Kata Bulek Feri, ngidam lebay-nya adalah ulah dari anak pertamanya yang sudah tiada. Katanya, dia sedang di ganggu dan calon adiknya. Jadi posisi almarhum anaknya berada di perut dan melingkar mengganggu calon adiknya. Itu sebabnya ibunya tidak bisa bangun dan tidak mau makan apapun.

Setelah ada yang menyarankan untuk berobat ke dukun bayi itu, semua membaik bahkan lebih baik. Bulekku sehat ceria dan bisa menjalani hidup normal ibu hamil pada umumnya.

“Oh mungkin saking sayangnya, jadi pengen dolanan/mainan sama adiknya” ucap Simbahku. Dan kamipun tertawa lega.