Capung Putih

Home > Cerita Sedih > Capung Putih – 303 reads

Assalamualaikum selamat membaca. Kejadian ini merupakan kejadian nyata 5 tahun yang lalu. Saat diriku masih menduduki kelas 8 SMP di tahun 2015. Aku masih ingat sore itu merupakan sore yang kelam buatku. Pertengakaran yang semakin menjadi-jadi membuatku stress untuk tinggal di rumah itu. Sudah hampir tiga hari juga diriku bolos sekolah, entah karena malas atau suasana hatiku saja yang sedang sakit.

Aku masih ingat hari itu hari Selasa, aku bolos sekolah dan malah berjalan-jalan di sekitar taman kota Bireuen. Tak terasa hujan rintik-rintik dan suasana angin kencang menghampiri, alhasil aku berteduh di bawah pohon yang lumayan besar.

Aku terduduk lesu sambil melipat kaki, tak kusangka seekor capung putih menghampiriku. Aku berusahalah menangkapnya tapi ia tak kunjung tertangkap, aku tersenyum, ia cantik sekali.

Read Another Stories:

Hujan kemudian reda, tapi suasana dingin dan mendung tak kunjung hilang juga. Agak aneh jika aku pulang ke rumah sekarang, apalagi ini masih jam 2 siang. Biasanya sekolahku selesai di jam 4, apa yang akan dikatakan nenek nantinya jika aku pulang sekarang, ribet pasti.

Aku kembali ke kursi taman, sambil menikmati susu hangat yang kubeli di seberang jalan tadi, ahh capung putih itu datang lagi..dia kini mengelilingi kakiku berulang-ulang kali. Agak geli rasanya, dan saat itu pula aku seperti merasa ada seseorang di sampingku.

Bukankah ini aneh? Dan anehnya lagi, capung itu malah hinggap di sampingku, seperti mengatakan bahwa seseorang juga menduduki kursi ini.

Aku merinding, wahh kenapa suasana mendadak sepi dan hawanya terasa panas. Capung itu kemudian terbang lagi…aku sempat sekilas melihat ke samping, seperti ada sekelebat bayangan putih menduduki kursi ini juga.

Wah apakah dia ingin menemaniku? Tak masalah, asalkan jangan dia mengangguku saja itu tak apa. Aku terdiam dan tak sengaja aku mulai berbicara “kamu tau, aku kemari karena gak betah di rumah, pertengkaran papa dan mama, pertengkaran nenek dan paman, semua itu membuatku muak” jelasku.

Angin kemudian datang menerpa mukamu, agak hangat seolah-olah dia berkata “bersabarlah, semua pasti akan membaik”.

Aku berdiri hendak pulang, tapi sebelum itu aku sempat melihat ke bangku taman kembali (dan tak kusangka aku melihat dia, ya seorang gadis berpakaian jingga dengan rambut pendek di sertai muka pucat sedih), aku tersenyum padanya dan ia pun menghilang.

Dan setelah pertemuanku dengan dia, setiap harinya saat jam 5 sore capung putih itu akan datang ke kamarku, tepatnya berterbangan di tepi jendela kamarku, ya mungkin capung putih itu selalu ada bersamaku selama 3 tahun, dan ketika diriku mendadak dewasa di kelas 11 SMA, capung putih itu mendadak hilang bak di telan bumi.

Tak ada tanda-tanda kepergiannya, agak sedih, biasanya ia selalu datang di jam 5 sore, huff aku hanya bisa mengucapkan terima kasih atas kedatangannya. Sungguh capung putih yang indah.