Kisahku Ketika Masih SMP

Home > Cerita Seram > Kisahku Ketika Masih SMP – 404 reads

Sekolah Menengah Pertama (SMP) terfavorite di Bandung. Di situlah aku sekolah. Sekolah yang sangat sangat luas itu memang terkenal dengan peninggalan Belanda. Sekolah itu telah mengukir sejarah, dimana hampir beberapa orang tersohor di Indonesia bersekolah di sekolah itu. Sekolah kebangaan. Sekarang aku berumur 16 tahun. Aku sekolah di sekolah yang sangat kecil. Yang membuatku … aku tidak ingin mengatakannya. Kalian hanya cukup mendengar ceritaku saja.

Masa pengenalan siswa baru, yang biasanya dikenal dengan OSPEK. Rambutku di-Bob, kacamata besar. Lumayan gemuk. Aku memang menyukai horror.

Singkat cerita. Aku telah berhasil melewati OSPEK itu. Aku bergaul bersama teman-temanku. Sayangnya, semuanya tak sesuai dengan harapan. Bully-an pun terjadi. Aku pendiam. Aku menjadi sangat pendiam. Aku tak tahu, apa yang telah membuatku seperti ini. Yang pasti bukan sesuatu hal yang asing lagi di sekolahku itu.

Read Another Stories:

Pelajaran olahraga pun dimulai. Disana, dulu terdapat sebuah kamar kecil untuk wanita di pojok belakang sekolahan. Gelap. Besar. Terdapat sebuah cermin besar di sebelah kanan.

“Jangan pernah masuk ke dalam toilet di ujung kiri. Disana lampunya gak pernah mati, dan selalu di kunci.” Kata kakakku yang dulunya sekolah disitu.

Kondisi di toilet itu selalu gelap. Dan penerangan sebanyak apapun, selalu remang-remang. Hingga suatu hari, aku menemani temanku yang bernama T untuk mengganti baju. Kami paling terakhir masuk toilet itu, karena kami memang orangnya tak mau bergerombol. Aku menunggu dia di luar, dan bercermin di cermin itu.

Aku melihat sebuah bayangan hitam keluar dari pintu yang terrkunci itu di cermin sambil merangkak. Aku terdiam, dan berusaha untuk memanggil temanku itu. Sayangnya, suaraku tak bisa keluar. Aku memejamkan mata, dan dia pun hilang! Aku lari ke pintu toilet temanku itu, dan aku mengetuk pintu nya dengan keras.

“Ada apa?” katanya membuka pintu.

“Gila, men. Gak … Gak bisa, gue gak bisa. Cepat ah balik ke kelas.” kata aku.

“Eh bentar, jangan balik badan dulu!” katanya.

Dan disaat aku membalikan badan *bruk bayangan hitam itu ada di depan mataku sendiri. Begitu tinggi, besar, dan bau. Aku terhentak. Aku mundur dan menabrak temanku.

“Eh, santai saja dong! Sini, sini jalannya geser saja.” kata dia.

Aku pun lari.

“Eh, T, Itu siapa sih? Gue kaget. Kok lo bisa tau dia ada disana? Lo indigo?” tanyaku.

Dia pun mengangguk. Oke, aku paham. Iya, dia adalah sesuatu yang selalu diam di toilet terlarang itu.

Semester 2 pun berlanjut. Kondisi fisikku masih normal. Sampai akhirnya, aku terjatuh disaat bermain basket di lapangan sekolah. Kondisi kakiku tak mendukung untuk berjalan sendiri. Aku butuh tongkat untuk berjalan. Singkat cerita, aku pergi ke toilet sendirian. Aku melihat ada seorang wanita yang sedang memegang rambutnya di depan cermin itu. Aku menghampirinya dan menyapa.

“Hay! Kamu kelas mana?” tanyaku.

Dia membalikan badan, dan bilang “Aku tinggal disini”.

Wajahnya cantik, rambutnya lembek, mukanya berdarah-darah, memakai baju SMP. Aku terhentak lagi. Tiba-tiba saja dia menjerit kepadaku.

“Kamu tau gak? Yang bikin kamu seperti ini tuh siapa? Tau gak? Aku lihat! Kemarin aku duduk di pinggir lapangan! Mereka merencanakan ini semua agar kamh terjatuh!” jeritnya.

Aku diam. Dan tak berkata sedikit pun. Aku menarik nafas, dan “Aku tahu. Tapi aku tak mau menagih belas kasihnya. Karena aku tak mau dikasihani, dan aku baik-baik saja.” ucapku.

Mukanya berubah. Dia marah. Wajahnya sangat jelek, dan menakutkan.

“Kamu jelek.” ucapku.

Lalu mukanya kembali ke semula.

“Maaf. Bolehkah aku menemani mu?” tanyanya.

“Untuk apa?” tanyaku balik.

“Untuk menjagamu selama kamu ada di sekolah ini” jawabnya.

Aku pun mengangguk. Kemana pun aku pergi, dia selalu berjalan di belakangku. Aku tak tahu, apa kah aku anak Indigo atau bukan, karena aku tak merasakan hal yang sama seperti temanku si T itu disaat pertama kalinya melihat ‘mereka’.

“Ah, tapi waktu pertama kali aku bisa lihat, aku demam tuh seminggu.” ucap si T.

Aku hanya mengangguk saja. Selama 3 tahun aku ditemani oleh-nya. Oh iya, namanya Dinda. Dia lucu. Terkadang aku terlihat berbicara sendiri, tetapi ia sedang menceritakan hal-hal lucu yang telah terjadi di lapangan selama itu.

Kelas 2 semester 1. Untuk pertama kalinya aku berlibur dengan semua keluarga besarku ke pantai Anyer. Ini untuk pertama kalinya aku melihat dan menyentuh pasir.

Aku pergi ke anyer dengan menaiki sebuah Bus yang hanya untuk 20 orang. Aku duduk di depan, sendirian bersama tobby (guling kecil yang sudah 12 tahun tak dicuci) dan tas kesayanganku. Aku memakai topi kupluk dan memakai penutup telinga. Rambutku yang saat itu panjang membuatku terlihat seperti alien. Tetapi aku suka dengan gayaku itu. Dalam perjalanan, aku merasa tak asing dengan nama, tanda, dan tulisan di jalan ini. Aku pernah kesini. Tapi kapan? “Ah dejavu” gumamku.

Akhirnya aku sampai di sebuah cottage yang lumayan luas! Cottage, 2 keluarga. 1 keluarga, 4 orang. Aku masuk kedalam cottage itu lebih dulu, bersama tobby dan tas ranselku itu. Aku masuk, dan hawanya begitu sangat panas. Terdapat sofa dan meja kecil disebelah kiri, bersebrangan dengan TV LCD di sebelah kanan. Sejajar dengan sofa. Ada tempat untuk makan, dan kesananya lagi ada sebuah lorong kecil untuk cuci piring. Aku melihat seseorang disana.

Tetapi … Tangannya panjang. Menyeret dikala ia berjalan, lidahnya begitu sangat panjang, tak memiliki beberapa gigi, rambut yang gimbal. Aku memejamkan mata, dan membukanya. Dia ada didepanku! Aku kembali menutup mataku, dan ia mulai menyentuh gulingku. Otomatis aku marah besar, tak boleh seorang pun menyentuh gulingku. Aku membaca ayat kursi. Dan akhirnya dia hilang. Aku masuk ke kamar yang memiliki toiletnya di dalam. Tak tahu kenapa, aku merasa sangat sangat takut berada disitu.

Singkat cerita, aku pergi ke pantai. Duduk diatas pasir untuk pertama kalinya. Aku mengubur kakiku dalam-dalam dengan pasir itu. Dan aku mendekatkan pasir itu ke wajahku. Aku melihat ada sebuah benda yang aku pikir sudah pecah karena ujungnya tak beraturan. Aku melihatnya semakin dekat, dan ih! Apaan itu! Jijik! Berbintik-bintik hitam!! Dengan dasar putih, ih! Jijik! Aku berusaha mengeluarkan kakiku dari kuburan pasir itu.

Aku panik, karena aku benar-benar jijik melihat itu. Lalu aku gali dengan perlahan agar kakiku tak terluka. Di saat aku sedang menggali, aku menemukan sebuah benda berbentuk gigi. Gigi yang sangat besar, dan berdarah!

“Ah? Gigi hiu? Masa iya disini ada hiu?” pikirku.

Aku pegang gigi itu lumayan lama, hingga akhirnya aku melempar jauh gigi itu karena bau amis yang begitu menyengat.

Malam harinya, aku sangat senang mendengarkan lagu Perjalanan – Sarasvati. Memang lagu itu terdengar seperti horror, tetapi aku sangat menyukainya. Dinginnya angin yang menembus baju hangatku membuatku ingin tertidur secepatnya. Aku masuk ke cottage sendirian, karena melihat semua orang sedang bermain kartu di depan kamarku. Aku masuk, dan menghampiri meja kecil di seberang TV itu. Aku melihat sebuah … setahuku namanya kumang (dalam bahasa sunda). Di dalam Styrofoam yang berisi dengan pasir.

“Ah … Anak-anak” ucapku dalam hati dan cepat masuk ke dalam kamar. Sampai di depan kamar, aku terhentak. Aku melihat gigi yang besar itu ada di tumpukan pasir. Aku kembali melihat ke Styrofoam itu. Kumangnya sudah hilang, padahal tadi tertutup rapat, hanya sebuah lubang kecil untuk memberi udara. Tak ada robek, tak ada lubang. Hanya ada gigi itu diatas pasir. Aku masuk ke dalam dan mengambil tobby, dan kembali keluar. Hingga akhirnya aku tidur pukul 3.

Singkat cerita, keesokan harinya. Kakiku terluka, aku tak bisa berjalan. Maka dari itu semua orang memutuskan untuk pulang. Di saat aku keluar dari cottage, aku mendengar sebuah bisikan yang begitu lembut.

“Terima kasih telah menemukan gigiku” aku pun terdiam memeluk tobby.

Semenjak kejadian itu, ada hal aneh yang telah menyelimuti diriku. Di setiap kali aku mengobrol di social media, instant message, sms, maupun telepon. Aku selalu tahu ada ‘siapa’ saja yang ikut mendengar dan melihat percakapan kami. Ya, aku bisa tahu. Dan sekarang, mereka sedang berdiri di belakangmu, ikut membaca ceritaku.