Makhluk Pucat dan Dingin

Home > Cerita Seram > Makhluk Pucat dan Dingin – 364 reads

Aku baru saja pindah ke sebuah apartemen baru, dengan saldo uang yang sangat tipis, aku harus tinggal di apartemen yang terletak sebaris dengan bangunan terlantar. Jalanan sudah tak terawat, tapi aku masih yakin, ada penghuni di 2 lantai bawah dari ruang apartemenku. Ruanganku adalah satu satunya yang tidak dilapisi papan kayu, tapi dibandingkan dengan ruangan lain, apartemenku ini masih punya potensial. Ketika aku pindah kesini, tidak ada listrik, tidak ada gorden, dan tidak ada karpet, tapi setidaknya air keran masih mengalir.

Sekarang adalah fase yang berat dalam hidupku (alu takkan menjelaskannya) dan aku bersyukur bisa memulai lagi. Aku akan cepat terbiasa setelah aku menata perhiasan di tempat ini.

Malam pertama, aku berniat tidur di situ, bahkan tanpa matras dan hanya beberapa lilin untuk memberi cahaya, walaupun aku sebenarnya bisa menemukan lokasi kamar mandi dari baunya. Setelah sedikit merombak ruangan yang terlihat seperti ruang tamu, aku melahap makanan sederhana yang terdiri dari kacang-kacangan dan biskuit kering, sambil berjanji dalam hati bahwa ketika pagi menjemput, keadaan akan menjadi lebih baik dan aku bisa segera menata barang-barangku.

Read Another Stories:

Setelah menggeledah rak dan lemari untuk mencari barang-barang berguna, aku hanya menemukan sebungkus gantungan plastik untuk gorden dan sekotak penuh buku data penyewa apartemen. (Mungkin ditinggalkan oleh pemilik apartemen) aku memutuskan untuk berbaring di pojok dan menggunakan jaketku sebagai alas seadanya.

Mencoba untuk tidur, dengan terpaku pada pemandangan sebuah jendela hitam pekat yang kosong di depanku membuatku tak kuasa terlelap. Dan diiringi pikiranku, tentang apa yang mungkin ada di luar situ di kawasan tempat terlantar seperti ini, membuat mataku tak lepas dari jendela itu sepanjang malam. Singkat kata, aku tidak tidur dan akhirnya memutuskan untuk melihat-lihat lebih lama lagi.

Aku menemukan sebuah kotak lusuh dengan foto tua hitam putih di tungku pembakaran. Enam orang berdiri persis di depan jendela yang sama, mulut terbuka lebar dan bayangan yang terpantul di jendela yang bentuknya agak aneh menurutku. Aku berusaha mengalihkan pikiranku dari foto, karena foto-foto ini memberiku perasaan takut.

Pada malam kedua, aku mulai merasa agak nyaman di tempat ini, meskipun sebagian besar barangku masih ada di dalam koper dan aku masih tidak punya furnitur atau hiasan, karpet atau gorden.

Waktu siang membuatku bisa mengeksplor dengan baik dan aku menghabiskan waktuku untuk menata interior ruangan. Aku bahkan menjadikan sebuah selimut tua sebagai gorden untuk menutup jendela itu untuk menghentikan mata-mata yang mengintip, dan juga menghentikan imajinasiku menjadi liar.

Di temani bias lilin, aku memaksa diriku membaca tulisan kabur di buku data penyewa apartemen yang kutemui, karena hanya itu yang bisa kulakukan saat ini, tapi apa yang kutemukan cukup menarik: total 6 buku, 1 buku untuk 1 penyewa, dan di semua bukunya hanya 1 catatan penyewaan. Penyewaan hanya berlangsung satu bulan, dan kemudian tidak ada apa-apa lagi di buku itu. Kosong. Ada sesuatu yang salah. 6 penyewa terdahulu hanya tinggal selama 1 bulan atau kurang.

Merasa sedikit merinding, aku memutuskan untuk buang air kecil sebelum lilin terakhirku benar-benar meleleh habis, lalu aku melangkah melintasi lorong ke kamar mandi yang berbau busuk itu, sembari menatap bayanganku menari dengan tenang sepanjang dinding yang terkelupas di depanku. Kemudian aku berdiri di hadapan pintu kayu berat. Aku mendekap mulutku dan melangkah masuk. Aroma itu sangatlah pekat sampai sampai aku masih bisa menciumnya dan detik saat aku menurunkan resleting celanaku, lilin terakhirku padam.

Sekarang, sampai hari ini, aku tak yakin di mana aku kencing sebenarnya, tapi aku bisa memberitahumu itu adalah buang air kecil tercepat yang pernah kulakukan, bukan hanya karena aku berada dalam kegelapan total, tapi juga karena aku tak bisa menahan napas lama. Aku berlari dari tempat itu secepat yang ku bisa, tapi kemanakah aku berlari? Aku tiba-tiba tersadar bahwa aku tak punya lilin tersisa dan dengan itu, kehitaman absolut membungkus semua dinding dan bangunan, dan satu-satunya cahaya remang-remang kecil dari apartemen telah meninggalkanku.

Deritan kayu tua di lantai mulai terdengar seperti sebuah bisikan halus, dan sensasi sentuhan pada tiap permukaan terasa sangat hidup, saat aku menyentuhkan tanganku dalam kegelapan sepanjang dinding. Merasa menemukan knop pintu, aku mendorong pintu ruang tamu dan melangkah ke arah jendela. Mungkin lampu jalan atau mobil yang lewat bisa menerangi ruangan, jika saja aku membuka selimut tua yang menutup jendela itu

Jendela itu, yang telah membuatku sangat tidak enak, kini adalah harapan terakhirku untuk mendapatkan pencahayaan. Saat tanganku menembus kegelapan untuk menarik lepas selimut itu, aku hanya merasakan permukaan dingin kacanya.

Selimut itu luruh ke lantai, dan saat mataku beradaptasi, aku telah melihatnya,
di balik sisi lain jendela yang hitam pekat, berdiri sosok makhluk yang pucat dan dingin, mulutnya terbuka lebar, menanti pergerakanku selanjutnya.