Mereka Tertawa Terbahak-bahak

Home > Cerita Seram > Mereka Tertawa Terbahak-bahak – 405 reads

Aku memiliki seorang teman, namanya adalah Cazz dan dia begitu suka dengan yang namanya petualangan. Orang tuanya selalu memanjakanya dengan petualangan-petualangan yang berbeda setiap musim liburan tiba, namun menurutku itu tidak lebih seperti sebuah liburan yang menyedihkan. Berkunjung ke kebun binatang, mendaki gunung di Swedia, menjelajah di hutan selatan Amerika atau pergi ke sarang tawon di Michigan, sayangnya Cazz sudah melakukan itu semua.

Aku mendapatkan kabar ketika dia datang menemuiku dan mengatakan akan melakukan kunjungan safari ke Afrika Selatan pada liburan musim panas nanti. Tidak mengherankan bagiku memang, ku harap dia akan baik-baik saja setidaknya selama 3 bulan nanti.

3 bulan berlalu dan akhirnya aku melihatnya lagi, namun tunggu, ada yang salah dengannya. Awalnya ku pikir mungkin karena mod yang buruk, insomnia atau dia terkena Syndrome, entahlah namun aku yakin ada yang salah dengannya.

Read Another Stories:

Keyakinanku semakin kuat ketika Cazz sekarang lebih jarang keluar dengan sepedanya atau sekedar lari ringan di taman, melainkan dia lebih memilih menukarnya dengan hanya menonton film drama di depan televisi.

Setelah beberapa minggu memperhatikan Cazz, akhirnya keberanianku muncul untuk bertanya apa yang terjadi kepadanya. Dia menatapku dengan mata besarnya, kemudian menghela nafas dalam-dalam.

“Sebenarnya, aku tidak ingin membicarakan hal ini. Tapi, ku harap kau tidak akan percaya dengan apa yang akan ku ceritakan kepadamu.”

Aku meyakinkannya bahwa apapun itu, yang membuatku tidak percaya maka aku tidak akan perdulikan karena aku disini bukan berniat untuk menilai kualitas cerita seseorang, aku hanya bersikap khawatir atas perbedaan yang terlihat. Dan sesungguhnya itu menggangguku juga.

Dia akhirnya setuju namun dengan syarat, bahwa aku tidak akan bertanya apapun atau tertawa karena ceritanya, dia ingin aku bersikap serius. Maka, aku mengatakan “setuju”.

“Saat di Afrika, aku mengikuti semacam tour safari bersama laki-laki lain, mereka adalah orang-orang profesional yang tengah melakukan konservasi wilayah dan eksplorasi. Umumnya mereka tidak menggunakan bahasa inggris, namun aku sudah memiliki penerjemah untuk membantuku berkomunikasi dengan mereka.

Aku tergabung dalam tim mereka yang tengah melakukan eksplorasi, entah apa nama program itu, apakah pelacakan, taging atau yang lain. Beberapa jam kemudian, mereka menjelaskan bahwa keadaan tidak mendukung, jadi akhirnya kami memutuskan untuk berhenti sejenak dan mendirikan kemah.”

“Malam pertama sangat lancar tanpa ada gangguan berarti. Aku bergabung pada tim saat itu juga, dan mereka membawaku ke sebuah wilayah berair yang menjadi kebanggaan Singa untuk berkumpul. Tapi malam ketiga, kami memiliki masalah serius dengan ban mobil kami yang kempes, sehingga kami harus menginap sebelum melanjutkan perjalanan.”

“Hari itu, kami bertemu dengan sekelompok Hyena. Itu sangat aneh, karena pada umumnya hyena aktif pada malam hari. Mereka memang tidak berbahaya, namun tetap saja, mereka mengikuti kami walaupun agak sedikit jauh dari tempat kami.

Kami semua berkumpul tepat di atas mobil, tampaknya semuanya terlihat nyaman dengan bersenda gurau bersama-sama, hanya satu orang tua yang terlihat sedikit tidak suka dengan keadaan, namanya adalah Gael, dan dia akan terlihat marah serta memukul orang-orang yang bercakap-cakap kepadanya. Aku tidak mengerti apa yang mereka bicarakan jadi aku bertanya pada penerjemahku”.

“Dia (Gael) memperingatkan kepada kita agar tidak bicara terlalu banyak dan memberitahukan sebuah nama pada mereka?”
“Mereka siapa?” tanyaku.
“Penerjemahku bertanya pada Gael, dan pria tua itu memandangku dengan tatapan masam, kemudian berbicara kepadaku dengan bahasa inggris, saat dia mengatakanya, sekelompok pria lain tertawa terpingkal-pingkal.”

“Sebenarnya ini hanya sebuah takhayul tua namun dengarkan aku, jangan berbicara kepada mereka, atau memberikan sebuah nama kepada mereka. Karena Itu berbahaya nak.”

“Mereka siapa” tanyaku.

“Para Hyena, Gael menjawabku lagi dengan bahasa inggris, sebelum dia melanjutkan kata-katanya, tiba-tiba salah satu seorang lelaki tertawa terbahak-bahak, namanya adalah Obasi, dia menunjuk Gael dan meneriakkan namanya, Gael terlihat marah dan bersiap akan memukul pemuda itu, kemudian, Obasi memandangku lalu dia berseru dan meneriakkan namaku juga.”

“Cazz! Cazz! Ha Ha Ha!”

“Suara tawa terdengar semakin keras, dan aku ikut tertawa bersama dengan mereka karena menurutku itu lucu. Tiba-tiba aku mendengar suara tertawa yang lain, itu adalah para Hyena, mereka juga tampak tertawa bersama dengan kami. Gael tampak tidak senang karena dia terus melotot ke arah kami. Akhirnya perjalanan kembali di lanjutkan, dan para Hyena kembali mengikuti dari kejauhan.”

Aku memandang Cazz tampaknya dia gemetar ketika akan melanjutkan ceritanya. Dia menatapku, “apa kau pernah mendengar Hyena tertawa?”

“Seperti di film Lion king” kataku.

Cazz mengeleng. “Ini seperti orang tertawa pada umumnya. Hanya saja, tawanya terdengar pura-pura. Mungkin aku menyebutnya bahwa mereka seperti meniru kita, memang kadang binatang suka meniru manusia. Bukankah begitu?” Cazz mengambil nafas panjang sebelum akhirnya melanjutkan.

“Ketika kami berjalan, matahari mulai tenggelam. Aku tidak akan pernah lupa bagaimana tiba-tiba suasana menjadi merinding. Beberapa tempat di selimuti kegelapan dengan sangat cepat, sementara kamp masih terasa jauh. Akhirnya kami menyalakan api untuk membuat binatang-binatang takut. Mereka mengatakan bila kelompok Hyena itu masih mengikuti kita, dan biasanya mereka akan lebih agresif pada malam hari. Sesekali aku mendengar beberapa Hyena masih saja terkekeh di belakang. Menimbulkan suara yang aneh bagiku.”

“Kami hampir tiba di kamp, ketika tiba-tiba kami mendengar semacam suara seseorang berteriak di belakang kami. Kami semua melompat dan begitu ketakutan saat mendengarnya, suaranya sangat keras namun tidak dapat ku dengarkan dengan jelas apa yang dia katakan. Kini semua orang terlihat khawatir. Gael berteriak agar kita tetap berjalan. Aku terus melihat dari bahuku, siapa dan dari mana suara itu berasal.”

“Apakah tidak sebaiknya kita periksa? Bagaimana jika seseorang dalam masalah?” kataku pada penerjemah.

“Terlalu berbahaya. Lebih baik kita kembali ke kamp terlebih dahulu.”

“Akhirnya kami lakukan. Dan kau tahu betapa bersyukurnya aku ketika melihat tenda kami, tapi kemudian aku berharap memiliki selembar kain lain untuk membuatku nyaman dari dinginnya pasir di padang gurun. Beberapa orang di tugaskan untuk berjaga bergantian. Itu bertujuan untuk menjaga agar tenda kami tidak akan terbakar atau di serang oleh binatang tak di kenal. Aku mendapatkan jatah untuk istirahat pertama.”

“Tapi malam itu. Aku tidak bisa tidur. Kepalaku penuh dengan cerita tentang hantu dan ketakutan-ketakutan lain. Ketika akhirnya aku mulai merasakan rasa kantuk yang luar biasa, tiba-tiba aku mendengar suara seseorang memanggilku.”

“Cazz … Cazz … !!”

“Aku pikir sekarang, giliranku untuk berjaga. Jadi aku mulai memeriksa, aku merangkak keluar dari tenda dan menuju ke api unggun. Ku tambahkan beberapa kayu membuat bara api menjulang tinggi, namun tiba-tiba dari jauh aku melihat sepasang mata menyala melihat ke arahku dan kemudian menghilang.”

“Obasi tampak sedang terlelap di sekitaran api. Sekarang, aku tidak melihat siapapun disini yang meneriakkan namaku, jadi aku berdiri dan memandang kosong api unggun.”

“Caz … Cazz!! Aku kembali mendengar suara itu lagi.”

“Kali ini suaranya tinggi dan seperti meneriakkan permintaan agar aku datang kepadanya. Cazz!! … Cazz!! Suaranya semakin panik, namun kakiku gemetar untuk meninggalkan api unggun.”

“Cazz!! kali ini akhirnya aku mulai melangkah pelan mendekati sumber suara.”

Cazz, berhenti sejenak. Dalam titik ini dan aku melihat Cazz berkeringat serta bibirnya terus gemetar.

“Lalu apa yang terjadi?” kataku penasaran.

“Obasi menyelamatkanku. Dia menyambar bahuku sebelum aku melangkah menuju ke kegelapan. Aku menatapnya dengan wajah pucat, namun aku juga tahu bahwa dia (Obasi) juga sama pucatnya denganku.”

“Cazz …  aku mendengar suara itu untuk terakhir kalinya, menggoda kami dari kegelapan, setelah itu muncul suara tertawa yang panjang, suara tawa itu terdengar sinting, Obasi dan aku segera membangunkan semua orang. Kami mulai menghitung jumlah anggota tim. Semua orang ada disini. Tidak ada yang hilang.”

“Kami semua akhirnya memutuskan untuk tinggal bersama-sama di dekat api unggun. Tidak bergerak atau tidak tidur sampai matahari terbit.”

Kini aku menatap wajah Cazz. Sekarang, dia lebih pucat dari sebelumnya.

“Apakah kau pernah mencoba mencari tahu siapa yang melakukanya?”

Cazz mengelengkan kepala lalu menatapku dengan wajah sedikit gila, “mungkin itu adalah Iblis dari neraka. Sekarang aku terus mendengarkan suaranya setiap malam. Memanggil namaku dari kegelapan, menertawakanku. Bahkan sekarang aku semakin sering mendengarkan tawa mereka, meskipun aku sekarang berada di rumah.”

Cazz kini gemetar. “Mereka mendengarku, ini semua karena mereka mendengar namaku! Dan mereka kini mencoba untuk menipuku, sehingga aku akan datang kepada mereka!”.