Orang Mati Tidak Berbicara

Home > Cerita Seram > Orang Mati Tidak Berbicara – 54 reads

Bibiku dahulu adalah seorang seniman penipu, dan dia mendalaminya dari yang terbaik, ayahnya. Kakek tidak pernah terkenal namun dia berhasil mempertahankan dirinya. Menjaga diri dari radar pantauan polisi membuatnya tak pernah tertangkap. Satu kali pun tidak. Kakek tampaknya sangat bangga akan hal itu.

Mama tidak meneruskan pekerjaan keluarga sebagai seniman penipu. Bahkan ia menjadi sangat religius dan menikahi seorang akuntan pajak. Terlalu ironis karena kedengarannya seperti lelucon, tapi ini benar Papa paling jago dengan PR matematikaku.

Sedangkan mama menjaga masa kecilku jauh dari kehidupan sanak saudaranya, meskipun pada akhirnya mereka berhasil menarikku ke sebuah jalan hidup yang lebih menarik.

Read Another Stories:

Bibi Cassie adalah satu-satunya orang yang bisa menelusup masuk ke kehidupanku. Dia punya gelar lengkap di bidang psikologi, yang membuatnya lebih dijunjung oleh orang-orang.

Tapi bibi Cassie menggunakan bakatnya untuk membaca pikiran orang dengan cara yang sangat berbeda, yang bahkan, mungkin tidak diajarkan oleh universitasnya yang memberinya gelar gelar tersebut. Bibi Cassie adalah seorang cenayang sejati.

Dia punya toko dan segalanya. Permata, dedaunan, lilin. Apapun yang kau perlukan untuk mengisi keingintahuanmu akan dunia mistis bisa dibeli dengan harga yang ringan di toko kecilnya. Dahulu bahkan ada sebuah ruang pribadi di belakang yang dipakai untuk membaca buku dan bahkan, pemanggilan arwah.

Karena kedua papa-mamaku sibuk kerja, aku seringkali dioper ke tokonya di mana aku akan membantu bibi Cassie menaikkan ketakutan pengunjung dengan pertunjukan kecilnya. Apapun, dari mengedip ngedipkan lampu sampai mengetok tembok.

Menaik turunkan suhu dengan thermostat (alat pengatur panas) adalah salah satu ideku yang cemerlang dan sukses. Para pelanggan datang untuk ketakutan, bukan? Kenapa tidak?

Bibi membantuku menjadi pribadi yang skeptis seperti sekarang. Dia menunjukkanku ‘rahasia kecil’ trik-trik sulap dengan kecepatan tangan. Kami bersama sama menonton acara liputan pesulap yang membuat mayat berbicara. Dan Bibi Cassie akan menjelaskan padaku tiap langkah dari trik berbicara dengan nada dingin sampai cara untuk membuat mayatnya menunjuk ke salah satu penonton.

Setelah satu seri yang amat meyakinkan, aku menanyakan satu pertanyaan polos.

“Mungkinkah kalau itu nyata?”.

Bibiku menjawab dengan tegas.

“Orang mati tidak berbicara, nak. Siapapun yang mengaku kalau orang mati bisa berbicara itu hanya berbual saja.”

Adalah pernyataan bibi Cassie, yang membuatku percaya padanya.

Hanya ada satu pelanggan yang setahuku pernah ditolak oleh bibi. Pria itu tua, botak dan bungkuk. Ia mencopot topinya saat ia masuk ke dalam dan menyembunyikannya di balik badannya. Bibi mendadak tegang begitu ia melihat pria itu.

Lelaki itu mengklaim pernah bekerja di penjara. Sebagai algojo. Dia bertanggung jawab untuk mengeksekusi orang-orang yang melakukan kejahatan terparah di planet ini. Dalam masa tuanya, ingatan itu menyiksanya, memakan kehidupannya.

Dia ingin bibi mengontak jiwa-jiwa yang telah ia cabut agar ia bisa meminta maaf dan memohon ampunan sebelum ia menjadi salah satu dari mereka.

Bibiku memberi reaksi yang sungguh tak terduga. Aku tak pernah menyaksikannya begitu marah! Dia memekik dan melempar barang-barang. Berteriak padanya untuk “Keluar … Keluar … Pergi!”

Aku bersembunyi di bawah etalase dengan tangan menangkup telingaku hingga ia pergi. Kemudian aku mengira reaksi bibi itu karena efek ketakutan akan pekerjaan pria itu. Seorang algojo pastilah mimpi terburuk seorang seniman penipu.

Dan kemudian aku menemukannya. Aku ingin menggelar pemanggilan arwah yang sederhana untuk orang tuaku dan bodohnya, aku mengira mama akan senang jika aku menjadi perantara tubuh untuk arwah kakek agar mama bisa berbicara pada kakek, karena mama sangat merindukan kakek. Kesalahan fatal. Mama sangat ketakutan dan melarangku untuk menemui saudaranya lagi.

Aku meninggalkan buku catatanku di toko sehingga aku berlari ke dalam untuk mengambilnya sedangkan mama menanti di dalam mobil. Bibi Cassie bahkan tak bertanya padaku untuk tau apa yang terjadi. Lagipula, ia bisa membaca ekspresiku.

Aku memeluknya dan memberinya salam selamat tinggal yang penuh tangisan dramatis. Meskipun begitu, ia sempat memberitahuku satu rahasia terakhir.

“Nak, ada sebuah kutukan di keluarga ini yang diwariskan turun temurun seperti obor. Aku berharap pada dewa atau Tuhan apapun di luar sana, aku takkan mewariskannya padamu saat aku sudah tidak ada lagi.”

Kami tidak berkomunikasi lagi selama lebih dari 9 tahun. Saat itulah facebook memasuki lingkup masyarakat dan tak ada larangan orang tua yang bisa menghentikanku untuk kembali bercengkrama dengannya. Terasa sangat canggung.

Ia punya jalan hidup yang berat didagnosa menderita sindrom semacam skizofrenia yang merenggut toko itu dari tangannya. Untuk membayar tagihan-tagihan ia harus mengorbankan tokonya. Dan dengan perginya bisnis itu, hilang pula nafsu dan gairah hidupnya selama ini.

Suatu hari saat aku baru pulang ke rumah, aku mendapat pesan yang bertengger dikotak pesan masuk yang membuatku seketika jatuh ke lantai.

“Aku mencintaimu, nak. Ingat apa yang kukatakan padamu.”

Aku mendial nomornya, sambil terisak. Tidak ada jawaban. Tidak menghentikanku untuk menelepon lagi, lagi, lagi dan lagi.

Aku benar-benar terpuruk bahkan tidak bisa memberitahukan mama. Polisi mengabarkannya pada ibu keesokan hari. Kecelakaan mobil. Pengemudi mabuk.

Pemakaman itu sangat kelabu. Sanak keluarga yang tak pernah ku temui sebelumnya memenuhi gereja. Aku duduk di antara orang tuaku di barisan terdepan, memacu otakku untuk menerka apa yang bibi Cassie ingin aku ingat.

Kami mengekori peti jenazah menuju kuburan dalam keheningan yang mencekam. Pendeta memberikan pidato kecil terakhir dan kemudian aku tertinggal sendiri bersama batu nisannya, masih berusaha untuk mengingat.

Potongan percakapan orang tuaku keluar masuk rentang perhatianku. Jika saja Bibi Cassie tidak begitu misterius.

“Berharap untuk menghindari takdirnya. Sangat memalukan.”

“Menghindari takdir?” Kata itu mengusikku. Bibi memang sudah meninggal dan dimasukkan ke dalam peti. Aku berbalik untuk mengucapkan sesuatu dan akhirnya mengerti.

Di belakang orang tuaku ada sekelompok besar orang-orang, semuanya berdiri dan menatap dengan kosong. Orang tuaku sama sekali tidak memberikan mereka perhatian sedikitpun. Si pendeta menggumamkan beberapa patah kalimat belasungkawa dan kemudian pamit, berjalan tepat menembus kepadatan orang-orang itu tanpa mengganggu satu jiwa pun.

Di depan kerumunan itu, ada bibi Cassie yang penampilannya seperti hari terakhir aku melihatnya. Semua ucapan “istirahat dengan tenang” (rest in peace) takkan membantunya sama sekali. Mulutnya terbuka lebar, sangat lebar, lebar sekali, dan itu yang kutahu.

Aku tahu apa kutukan keluargaku. Aku tahu kenapa orang mati tidak berbicara. Mereka terlalu sibuk berteriak.