Penampakan di Sekitaran Makam Mbah Rewok

KCH > Cerita Seram > Penampakan di Sekitaran Makam Mbah Rewok

Entah sejak kapan bermula cerita mistis di sebuah dusun bernama Sumbergondo ini muncul. Bukit mungil yang biasa disebut oleh orang-orang sekitar sebagai ‘Bujuk’ adalah ciri khas istimewa dari dusun ini. Di era 80-90 an warga sekitar menjadikan tempat tersebut sebagai pusat ‘nglencer’ momentum libur lebaran.

Saya ingat betul bagaimana orang berjubel untuk sekedar naik-turun bukit yang berketinggian -+500 mdpl itu. Di puncak bukit terdapat makam keramat yang dipercaya oleh warga sekitar sebagai makam wali, yang konon ceritanya murid-murid si wali terbang membawa jenazahnya untuk dimakamkan di puncak bukit tersebut.

Di kaki bukit sebelah timur juga terdapat beberapa makam kuno salah satunya makam ‘Mbah rewok’, saya mendengar sayup penuturan salah seorang warga terkait nama penghuni makam itu. Baru belakangan aku tahu kenapa bukit di Dusun ini populer dengan panggilan ‘Bujuk’.

Read Another Stories:

‘Bujuk’ adalah serapan dari bahasa madura, mirip-mirip dengan ‘astah’ atau pasarean ‘wong kramat’, dan terdapatnya beberapa makam yang ‘dianggap’ kramat di bukit ini adalah alasan kenapa warga menyematkan nama ‘Bujuk’.

Sekitar tahun 2010 silam aku mengalami kejadian ‘seram’. Menjelang hampir jam 12 malam aku keluyuran di makamnya ‘Mbah Rewok’, tidak tahu kenapa akhir- akhir itu aku demen mendatangi makam-makam yang punya riwayat cerita magis niatnya sih ziarah dan sekedar napak tilas, tapi kok ya keterusan sampai tengah-tengah malam nekat ngelayap ke makam ‘Mbah Rewok’ yang terkenal cukup angker, disamping niat itu tadi aku tipe orang yang suka menyendiri dan suka kesunyian.

Maklum kalau orang akhirnya menganggapku ‘aneh’ atau bahkan ‘gila’. Makam ‘Mbah Rewok’ tidak terlalu jauh dari rumahku, sama-sama berada di kaki ‘Bujuk’, rumahku berada di sebelah utara sedikit ke barat. Hanya butuh -+20 menit jalan kaki untuk sampai makam, menyusuri jalan bukit berbatu yang kanan-kirinya penuh dengan pohon bambu, sesekali gesekan pohon-pohon itu diterpa angin membuat bulu kudukku berdiri.

Pada menit-menit pertama berada di kawasan makam, aku tidak merasakan apa-pun kecuali dingin dan….sedikit ‘was-was’…!! Tepat berada di depan makam aku ucapkan salam, kemudian aku duduk, kirim doa-doa …bla…bla…bla. Suasana berlangsung tenang, sepi dan cukup membuat aku fokus dan konsen pada doa-doaku.

Haumrrr, sontak aku terkejut dengan datangnya suara itu, jantungku seperti yang Ahmad dhani bilang dalam lagunya yang ngetren “bergetar lebih cepat”, sekuat konsentrasi aku berusaha tak menghiraukan suara yang mirip dengkuran macan sedang tertidur itu, mataku tetap kupaksa memejam, tapi telinga tak bisa dikompromi untuk tidak mendengarkan.

Di samping suara dengkuran si macan, telingaku mendengar suara lain, langkah- langkah kaki seolah berjalan santai terdengar gemeresek diatas dedaduan, sesekali diiringi dengkuran, benar-benar menyerupai macan ngorok. Menegaskan seolah ‘makhluk’ itu benar-benar ada, atau bahkan sedang mengawasiku, sangat menyeramkan.

Aku hanya berpikir jika itu memang benar-benar macan, maka percuma aku lari, langkahku pasti tak bisa menjauh dari kejarannya, tapi jika suara itu hanya ilusi atau ‘ macan’ dari dunia lain, pasti hanya sekedar mengganggu untuk sementara, jalan satu-satunya, aku pasrah, tak bisa berbuat apa-apa kecuali diam.

Suara yang tadinya seperti mendekat lambat laun terdengar lirih dan menjauh, aku mulai menghela nafas panjang, tapi tetap dengan mata tertutup dan posisi duduk tak berubah.

Meski rasa deg-deg-kan tak bisa aku pungkiri. Sejak suara itu muncul bulu kudukku terus ‘berdiri’ tak kunjung-kunjung ‘duduk’, leher seperti kram dan kaku sekali. Yahh, mungkin karena menahan fenomena ‘rasa’ menyeramkan tadi. Tahu begitu, mungkin aku nggak bakalan kelayapan ke makam ‘Mbah Rewok’, mending tidur di kamar, buat peta ‘pulau kalimantan’, hahaha.

Huff, tiba-tiba aku merasakan angin yang tak sewajarnya, dingin, sangat dingin. Hidungku seperti mencium bau? Yah, bau itu sangat aku kenal, bau harum bunga melati, semakin harum dan menyengat ’menusuk-nusuk’ hidung, membuatku sampai terlena menikmati keharumannya, semakin aku hirup dalam-dalam dan entah kenapa tak punya prasangka bahwa itu magis, aroma melati dari dunia lain.

Sontak aku terkejut ketika perlahan aku buka mataku dan mulai melihat sekitar makam, sama sekali tidak aku jumpai bunga-bunga melati, lalu ”dari mana aroma itu?” pekikku dalam diam. Aku semakin was-was dan bertanya-tanya, sembari melototi tumbuhan sekitar makam dengan saksama satu demi satu, hingga sesuatu yang sangat menyeramkan tiba-tiba muncul kembali.

Kali ini bukan suara, yang terdengar telinga atau aroma yang terendus hidung, mata kepalaku melihat dengan jelas, wujud manusia tua yang sedang tertidur dengan rambut kepala sedikit botak seperti bangun dengan meliuk-liukkan badannya, tepat diatas makam. Mataku semakin melotot memandanginya seolah tak bisa berkedip, tubuhku membeku, seperti patung.

Entah apa dan siapa gerangan? Perasaanku bercampur aduk tak karuan, antara percaya, ragu, takut, dan panik luar biasa. Nasib baik ‘keterpanaan’ itu tak berlangsung lama, wujud manusia tua tadi berangsur-angsur samar dan lenyap dari penglihatanku.

Tanpa pikir panjang lagi, aku bangkit kemudian segera pulang. Sampai di rumah, istriku marah dan bertanya.

“Dari mana saja?”

”Nggak ada”, jawabku singkat dan mengakhiri perbincangan itu.

Ya, aku memang tidak pernah menceritakan penglihatan-penglihatan anehku, kepada istriku. Di samping aku tidak percaya pada penglihatanku, apakah benar-benar nyata atau tidak, aku merasa pengalaman itu cukup aku sendiri yang tahu.

Seiring waktu, rahasia itu-pun tak bisa aku pendam aku ceritakan kepada beberapa orang, hingga akhirnya cerita itupun menyebar bak virus corona, kompleks sudah cap ‘gila’ yang aku sandang. Gila karena katanya aku bicara diluar logika akal sehat.

“Pertanyaannya, sejak kapan pengalaman tentang yang magis dipahami dengan standart logika? Jelas tidak akan pernah masuk akal, karena ini memang bukan wilayah akal..!!” gumamku, sembari menguatkan diri sendiri bahwa aku masih ‘waras’.