Segitiga Bermuda yang Misterius

Segitiga Bermuda tetap menjadi salah satu misteri samudera yang paling terkenal dan belum terpecahkan. Selama berabad-abad para peneliti telah berusaha untuk mencari tahu mengapa Segitiga itu sama mematikannya, tetapi setelah puluhan tahun penyelidikan, pencarian, penyelamatan yang gagal, dan banyaknya jiwa yang hilang, itu tetap menjadi salah satu fenomena dunia yang tidak dapat dijelaskan. Sudah menjadi sifat bawaan manusia untuk mencari jawaban atau setidaknya tebakan yang tidak bisa dijelaskan. Kapal, pesawat, dan orang yang tak terhitung jumlahnya menghilang secara misterius di Segitiga Bermuda, menyebabkan spekulasi bertahun-tahun. Penalaran mulai dari alien, roh, hingga medan magnet bumi telah jadi perbincangan.

Taman Bermain Iblis

Segitiga Bermuda atau “Segitiga Iblis” adalah bagian dari Samudera Atlantik dengan titik-titik yang terletak di Miami, pulau Bermuda, dan Puerto Rico. Lusinan kapal dan pesawat telah menghilang di sini dalam keadaan yang tidak dapat dijelaskan selama bertahun-tahun, salah satu contohnya adalah ketika satu skuadron pembom Angkatan Laut AS menjadi bingung selama penerbangan mereka di atas daerah tersebut, tetapi pesawat mereka tidak pernah ditemukan. Banyak kapal dan pesawat lain juga hilang, dan dengan kurangnya sinyal bahaya lewat radio, orang-orang mulai berspekulasi mengenai adanya taman iblis di Segitiga Bermuda.

Legenda Abadi

Laporan kejadian aneh di Segitiga Bermuda telah dilaporkan sejak pelayaran Christopher Columbus. Dia telah berlayar melalui daerah terkenal ini pada perjalanan pertamanya ke “Dunia Baru”, dan melaporkan “nyala api besar yang menghantam laut pada suatu malam diikuti oleh cahaya aneh yang muncul di langit di kejauhan beberapa minggu kemudian.”

Dia juga telah menulis bacaan kompas tidak menentu, yang bisa saja karena Segitiga Bermuda adalah salah satu dari sedikit tempat di bumi di mana benar ada gaya gravitasi yang sangat kuat dan aneh.

Segitiga Bermuda telah menarik perhatian penulis drama terkenal, termasuk orang-orang seperti William Shakespeare. Dalam drama Shakespeare, “The Tempest” dia menceritakan tentang bangkai kapal legendaris yang terjadi di Segitiga. Salah satu tragedi lebih terkenal terjadi pada bulan Maret tahun 1918, ketika U.S.S Cyclops, sebuah kapal kargo sepanjang hampir 600 kaki dengan lebih dari 300 orang di dalamnya, tenggelam di suatu tempat di dekat Barbados. Cyclops tidak pernah mengirimkan sinyal marabahaya, meskipun mereka diperlengkapi untuk melakukannya. Pencarian ekstensif dilakukan, namun hasilnya nihil tanpa puing-puing atau bukti. Presiden Woodrow Wilson kemudian menyatakan bahwa “Hanya Tuhan dan laut yang tahu apa yang terjadi dengan kapal besar itu.” Hilangnya ini diikuti oleh kapal sejenis Cyclops yang menghilang dengan gaya serupa pada tahun 1941.

Sebuah Pola Misterius

Setelah banyaknya yang menghilang di Segitiga Bermuda, sebuah pola mulai terbentuk. Kapal-kapal yang melintasi Segitiga Bermuda akan berakhir dengan salah satu dari dua cara: ditemukan terbengkalai, atau lebih misterius mereka akan hilang sama sekali.

Pada Desember 1945, lima pengebom Angkatan Laut lepas landas untuk melakukan latihan pengeboman di Segitiga. Radio penghubung mereka mulai rusak dan pesawat Flight 19 utama menjadi kehilangan arah kendali. Kelima pesawat terbang di atas lautan tanpa tujuan sampai mereka kehabisan bahan bakar dan terpaksa membuang pesawat mereka di laut. Pada hari yang sama, pesawat penyelamat yang datang mencari Flight 19 dan 13 awaknya juga hilang. Setelah pencarian selama seminggu gagal menemukan bukti apa pun, sebuah laporan Angkatan Laut menyatakan bahwa “seolah-olah mereka telah terbang ke Mars”.

Pangkalan Bawah Air Dunia Lain

Lebih dari seribu orang telah menghilang di Segitiga Bermuda, membuat para ahli bingung. Namun, penggemar alien percaya mereka telah menemukan jawabannya dan makhluk luar angkasa yang harus disalahkan atas tragedi tersebut. Salah satu ahli teori, Charles Bellitz, menulis dalam bukunya, The Bermuda Triangle bahwa alien bertanggung jawab tidak hanya atas hilangnya Flight 19 tetapi juga banyak hal lainnya.

Dalam buku tersebut, Bellitz menulis: “Karena tidak memiliki penjelasan yang logis dan dapat diterima, peneliti independen yang peduli dengan penghilangan di Segitiga Bermuda telah melangkah lebih jauh, beberapa pada penjelasan berdasarkan pengecualian hukum alam, yang lainnya pada saran pergantian antar-dimensi melalui lorong yang setara dengan ‘lubang di langit’ (di mana pesawat bisa masuk tetapi tidak bisa keluar), yang lain percaya bahwa penghilangan itu direkayasa oleh entitas dari dalam atau luar angkasa.”