Pengganggu

Home > Kisah Nyata > Pengganggu – 116 reads

Senangnya hatiku, punya kemenakan/ponakan baru. Baru tiga hari yang lalu, mendapat kabar gembira dari gawai, eh dari Sindy. Anak dari tante adik dari ibuku.

“Mba, alhamdulillah wes lahir” tulisan dari pesan whatsapp beserta gambar screenshot hasil dari SMS seseorang yang Sindy kirim padaku.

Awalnya aku kirim pesan padanya, agar selalu hubungin gawaiku. Karena posisi rumah kami jauh, dia dan keluarganya di Lampung Timur. Sedangkan aku di Lampung Tengah.

Read Another Stories:

Saat itu aku sedang bersama Simbah, ibu dari ibuku dan bulekku. Karena beliau sedang khawatir tentang anak ragilnya yang mau melahirkan, jadi akulah sebagai perantara komunikasi segala hal. Bukan apa-apa, menjadi pendamping dan komunikasi seperti ini bagiku berat. Karena apa? Selain banyak yang tak suka padaku, terutama anak dan cucunya sering iri padaku. Entah apa yang mereka irikan dariku, terserah. Yang penting jangan jahil, sampai mahkluk dunia lain pun ikutan jahil padaku.

Selepas kabar itu, aku dan yang lainnya, yang masih menganggapku sodara. Rencananya mau besuk bulekku yang habis lahiran. Karena, rencana besuk di hari minggu setelah dia lahiran ‘gatot’ alias gagal total. Jadi, kami ganti hari rabu sore.

Sampai Lampung Timur, di rumah bulek. Ternyata bulek marah, kecewa. Karena cuman kami yang terdekat dengannya telat besuk. Sambil bercanda, aku jahili saja.

“Ya sudah, kalau gak mau di besuk. Berarti amplop beserta isinya gagal, haha” ucapku dengan wajah di sombong-sombongin sambil ngakak. Akhirnya suasana kembali cair, karena semua orang disana ngakak.

Setelah ngobrol ngalor-ngidul, tibalah rundingan acara tasyakuran. Gara-gara dah sewot, ternyata hari tasyakuran sudah di tentukan tanpa kami ketahui. Untung saja belum telat, karena harinya besok hari kamis malam jum’at.

Tapi karena kami tidak ada persiapan, jadi kami tidak menginap. Hanya Simbah saja yang kami tinggal biar nginap, nungguin cucu barunya. Jadi kami yang pulang, besok pagi harus datang lagi kesini, dengan membawa baju salin punya Simbah.

Aku, bulek dan ibuku. Berencana akan datang lagi, yang lainnya para laki-laki nyusul belakangan atau sorean.
Kamis subuh.

Aku bangun lebih awal, karena kupasang alarm gawai pukul empat pagi. Kalau bukan karena ada acara, demit(dwi emang amit-amit) yang imut ini ogah bangun pagi petang,hehe. Karena sering masuk angin kalau kepagian.

Next.

Nah, aku bangun langsung cuci-cuci segala macam. Dari piring, baju, lantai bahkan kalau kurang kerjaan gentengpun mungkin tak cuci. Lepas subuh, kulanjutkan menjemur baju. Karena masih gelap, kubiarkan saja lampu luar bertengger, eh menyala. Karena, rencana mau menjemur pakaian di kandang, tapi karena bulek Siti istri dari om Surya adik dari ibuku sudah memadamkan lampu kandang kosong itu, jadi mau tak mau aku jemurin di tempatku biasa menjemur pakaian.

Posisi rumahku, samping bekas rawa dan kebun, lanjut sawah. Jadi tidak ada rumah lagi di utara rumahku. Pas lagi khusyuk jemur menjemur “kreeeeek sreeeet, kreeeee sreeeet, kreeek sreeeet” suara dari arah rimbunan pohon bambu. Pernah kuceritain di cerita sebelumnya. Bagi yang ngikutin ceritaku, pasti tahulah.

Aku masih cuek, sambil celingukan. Kembali lagi “kreeeeek sreeeet” suara macam pohon bambu yang ditarik setelah ditebang pohonnya. Karena nyangkut disela-sela pohon bambu lainnya, sehingga butuh di tarik-tarik paksa. Ya bagi yang tahu, begitulah suaranya. Tetap cuek, tapi kok mulai merinding. Akhirnya ku amati tuh rimbunan pohon bambu. Tapi tidak ada gerakan apapun.

Padahal aku berharap ada orang atau manusia yang mulai berangkat kesawah. Tapi nihil. Tidak ada siapapun. Dan suara ke tiga, aku mulai marah.

“Wooh, mulai jahil ya. Dasar pengganggu. Kangen jahilin aku ya, karena aku jarang bangun pagi” gerutuku.

Aku pun masuk dan tutup pintu. Sekitar lima belas menit, barulah ada motor orang lewat hendak ke sawah. Aku penasaran, kubuka pintu lalu melototin,eh lihatin rimbunan pohon bambu.

Tapi nihil, karena setahuku yang punya pohon itu berangkatnya jam setengah tujuh kalau ke sawah. Sedangkan ini baru setengah enam dan baru satu orang yang lewat. Serta baru saja sedikit terang.