Sssttt

KCH > Kisah Nyata > Sssttt

“Wi, waktu itu siapa ya, yang bilang ‘Sssttt‘ ketika aku sedang khusyuk berdo’a?” ucap Surya, pamannya.

“Memang kenapa Om?” tanya Dwi.

“Enggak, aku kaget setengah mati. Saat lagi asyik dan khusuk doa, kok ada yang ‘Ssstt’ tepat di belakangku. Aku refleks nengok kebelakang, tapi tidak ada orang. Aku kira tantemu Maymun, eh ternyata bukan. Aku langsung pergi ke kamar belakang, ngecek, ternyata dia masih tidur pulas.” Terangnya panjang lebar.

Read Another Stories:

Dwi tidak terlalu percaya, tapi dia ingat sesuatu. Tiga bulan yang lalu, Pamannya bernama Surya dan istrinya bernama Maymun sedang mengalami musibah. Dari musibah itu, sampai-sampai Surya memanggil seorang Kiyai. Guna untuk meruqiyah diri dan meruqiyah rumah huniannya.

Musibah apa itu? Lain waktu Dwy dwi dandwi akan cerita ya, piss.

Nah, waktu itu. Rumah hunian Paman Surya memang terbilang sederhana, tapi bagian dalam ada aura kurang nyaman. Terlebih lagi bagian kamar depan, yang sekaligus untuk berdo’a oleh Paman. Dulu, waktu Dwi kecil sering sekali kemari. Karena, dulu rumah Paman adalah rumah utama dari orangtua Paman sekeluarga. Dan itu berarti adalah rumah kakek-neneknya Dwi, sebelum terpisah tembok.

Dwi sering merinding disco, saat memasuki kamar itu. Pasalnya, Dwi kan cuman mau numpang. Numpang ngaca. Tapi entah mengapa, Dwi seperti ada yang memperhatikan. Meski sudah di cek lewat pantulan kaca, tetap nihil. Ah, Dwi kan bukan Indigo.

Cepat-cepat, Dwi bergegas dari ruangan itu. Meski di hari-hari berikutnya, mengalami hal sama saat berkunjung. Dan setelah rumah itu dipisah oleh skat tembok dan jarak antara bagian ruang keluarga dan dapur, untuk di jadikan dua rumah. Hawa hampa dan tak nyaman mulai mengusik.

Bahkan, anak Paman Surya pun sering ketakutan. Jika tidur di kamar depan, hingga dia besar. Entah apa yang merasuki pikirannya. Saat ingatan Dwi sadar dari lamunan. Lalu dia bertanya pada Pamannya “Om, bukankah rumah itu sudah di Ruqiyah? Dan bukankah sudah di ambil semua Jin serta penunggu kamar depan?.”

“Iya, sudah. Tapi kok nyata, sumpah, suara itu tepat di belakang kupingku” Kata Surya ngotot.
“Kalau sudah, mana mungkin ada lagi. Eh, tapi setiap rumah pasti ada penunggunya deng” ucap Dwi ngasal, meski benar.
“Lah, berarti aku tak ngundang Kiyai lagi ya. Padahal batu yang disimpan di kamar itu sudah diambil olehnya” pungkasnya.

“Batu? Batu apa” tanya Dwi heran.
“Iya batu, batu kecil hitam. Mirip batu yang di gunakan untuk lempar zumrah saat Haji” jelasnya.
“Ooh, jadi batu itu ada isinya?” pemahaman Dwi.
“Iya, dan itu yang buat hawa panas rumah itu” terangnya.

Saat mereka diam dalam pemikiran masing-masing, lalu Maymun istri Surya datang dan ikut nimbrung.

“Mungkin itu, pertanda kita harus ‘Diam’ Om” ucap Dwi.

Bersambung.