Rumah Pohon Katarina

Assalamualaikum … selamat membaca. Aku terjaga dari tidurku, ku ratapi bang Akmal yang tertidur lelap di atas bahuku. Owalah apakah belum sampai juga? Kenapa sangat lama.

“Dek belom sampai ya ke Tangse nya”, tanyaku pada Syifa adiknya bang Akmal.

“Belum kak Bismi, kata ayah sekitar 12 menit lagi sampai”, jawabnya.

Aku membuka jendela mobil, huffd penanda pengunungan yang sangat menyegarkan. Tepat tahun baru aku berkunjung ke rumah adiknya suami bibiku di Aceh Tangse. Ya lebih tepatnya Desa pegunungan yang sangat indah dan sejuk. Akan tetapi butuh waktu lama untuk sampai ke tempat tujuan, entah 7 jam lebih kami telah on the way tetapi sampai saat ini harus menunggu 12 menit lagi untuk sampai.

Aku memeriksa pesan WhatsApp, grup Universitas sepi karena Dosen tidak memberikan tugas apapun pada kami, lantas bukankah ini bagus untuk waktu liburan yang asyik. Akhirnya kami sampai di rumah tujuan, aku mendorong kepala bang Akmal dari bahuku sambil berkata bahwa kami telah sampai. Aku turun dari mobil seraya menghirup udara yang sangat dapat menjernihkan pikiran.

Kami bergegas masuk ke rumah paman Rifki, paman Rifki yang sangat lucu itu malah mengodaku dan mengatakan bahwa aku cocok menjadi pacarnya bang Akmal saja bukan sepupunya.

“Hahaha paman ngadi-ngadi (mengada-ada)”, jawabku sambil tertawa.

Lantas bibi Yuni istrinya paman Rifki menyediakan kami minuman jahe panas dan lauk pauk untuk makan siang. Selesai makan aku, Syifa, dan bang Akmal jalan-jalan ke belakang rumah paman Rifki. Tapi ada yang salah, kenapa aku merasa kami semakin jauh ke dalam hutan?

“Bang kita mau kemana ya? Kok kayaknya masuk ke hutannya”, tanyaku.

“Waktu aku kecil dulu kalau gak salah di sekitar sini ada rumah pohon”, jawabnya.

Syifa berhenti berjalan, ia menatap bang Akmal seperti memohon untuk tidak pergi ke rumah pohon yang di ceritakan olehnya itu.

“Ya sudah kalau kamu gak mau ikut sana pulang saja, biar aku sama Bismi saja yang pergi”, kata bang Akmal sambil merangkul bahuku dan meninggalkan Syifa sendirian di belakang.

Aku memukul dada bang Akmal dan berkata.

“Kamu serius ninggalin adikmu hah, dia kan masih SMP kasian di tinggalin sendiri kalau tersesat gimana bang?”, kataku.

“Tau jalan dia, kan dia sudah sering ke sini sama ayah”, jawabnya.

Alhasil karena Syifa tak ingin ikut, maka cuma diriku dan bang Akmal saja yang pergi mencari rumah pohon itu. 5 menit kemudian akhirnya kami menemukan rumah pohon yang di bicarakan sama bang Akmal tadi. Rumah pohon yang terbuat dari kayu jati yang sudah lumayan tua itu terlihat sedikit horor.

Aku melihat ke atas rumah pohon itu, bukankah sepertinya aku melihat sosok wajah yang sedang memperhatikan kami sedari tadi.

“Naik yok bang”, kataku.

“Ishhh jangan,sudah sore nih besok saja gimana?” jawabnya.

Aku masih saja berdiri di atas tangga rumah pohon itu. Sungguh aku merasa gerak-gerik kami seperti ada yang memperhatikan. Aku kemudian turun dari tangga, dan melihat sebuah tulisan di kayu samping rumah pohon itu.

“KATARINA”.

“Apa katarina ini bang?”, tanyaku.

“Entah mungkin nama rumahnya, dan juga kalau aku bertanya ke paman Rifki tentang nama “Katarina” itu dia selalu berkata tidak tahu”, jelansya.

Aku berdiam sejenak dan mulai memegang pohon bertulisan “Katarina” itu. Sungguh perasaanku tidak enak, aku berbalik badan dan menatap kembali ke atas rumah pohon.

“Bukankah kau merasakan seperti ada yang mengawasi kita dari rumah pohon?”, kataku pada bang Akmal.

“Yaelah jangan ngawur Bismi, marilah kita pulang sudah jam 4 ini, by the way ntar malam aku ada latihan basket juga sama bang Adam”, jawabnya.

“Bang Adam?”, tanyaku.
“Iya bang Adam yang suka padamu itu, pasti dia senang bisa ketemu kamu, ayolah kita pulang kalau mau naik ke atas rumah pohon besok saja”, jelasnya.

Aku mengangguk dan mulai mengikuti bang Akmal meninggalkan rumah pohon itu. Sekilas aku berbalik dan melihat ke rumah pohon itu kembali. Dari kejauhan samar-samar aku seperti melihat anak kecil perempuan umur 12 tahun di atas rumah itu. Karena bang Akmal jalannya tergesa-gesa maka aku pun cepat-cepat menghampirinya.

Malam harinya saat kami makan malam, Syifa selalu saja memandang diriku sedari tadi.

“Kenapa fa, ada masalah kah?”, tanyaku.
“Kak jangan pergi kesitu lagi”, katanya.
“Kemana?”, jawabku sambil meminum air.

Kemudian bang Akmal mencolek bahuku dan menyuruhku ke kamarnya. Aku pun bergegas menyudahi makanku dan bergegas masuk ke dalam kamar bang Akmal.

“Malam besok mau ikut uji nyali gak?”, tanyanya.

“Gila kamu, tapi dimana?”, jawabku.

“Ahh itu Lo di Rumah Pohon”, katanya.

“Tapi itu kan jauh banget masuk kedalam hutannya bang”, kataku.

“Takut ya kamu, yaelah cemen banget, lagian banyak yang ngikut kok bismiiiiii”, jelasnya.

“Kalau aku mau ikut balasannya apa?”, kataku sambil melipat tangan ke atas perut.

“Eummm aku traktir shoppy pas kita sampai di kota”, katanya.

“Deal ok”, jawabku padahal sebenarnya aku segan untuk mengikuti uji nyali ini.

Kata bang Akmal banyak yang ngikut sih, kira-kira siapa saja ya, aku kembali ke kamarku untuk tidur, kemudian pintu kamarku di ketuk dan ternyata itu Syifa.

“Kak jangan pergi ke rumah Pohon katarina”, jelasnya.

“Aduhh kenapa sih, kan cuma uji nyali doang fa, gak ada maksud lain”, jelasku.

“Pokoknya jangan, kalau paman Rifki tau gimana? Pasti dia marah kak”, jelas Syifa.

“Gak apa-apa kakak bakal hati-hati kok, kan kakak juga pakai kalung pemberian dari almarhum kakek”, jelasku.

“Bang Akmal sudah pergi main basket, jadi aku gak tau mau cerita kemana”, kata Syifa kemudian.

“Cerita apa dek?”, tanyaku.

“Rumah pohon katarina gak aman kak, ada dia situ aku yakin kak Bismi juga merasakan kehadirannya kan, dia suka kakak itulah yang aku takutkan”, jelasnya sambil memelukku.

Ouhh berarti katarina itu namanya anak kecil 12 tahun yang kulihat di rumah pohon tadi.

“Insya Allah kakak bakal jaga diri ya, gak usah khawatir”, jawabku.

Baiklah cukup sekian, akan dilanjut pada “Rumah Pohon Katarina Bagian 2”, kapan-kapan di lanjutkan ya. Salam manis dari Bismi Jasein.

WA: 081370400622
Istagram: @bismi_jasein1108
Facebook: Bismi jasein