Rumah Sakit Bunda

Assalamualaikum dan selamat membaca. Malam itu gerimis mulai turun, aku masih saja berada di dalam mobil sambil memainkan handphone, membalas chat dari teman-teman kampus yang menanyakan bagaimana kabar bang Akmal (Abang sepupu) ku itu lepas kecelakaan 2 hari yang lalu.

Entah kenapa dengan si abang ganteng playboy itu, dan akhirnya baru pada malam hari ini diriku baru bisa menjenguknya. Di karenakan diriku sibuk dan tugas kuliah yang menumpuk, alhasil kemarin-kemarin aku tidak dapat menjenguknya.

Akhirnya diriku tiba di Rumah Sakit Bunda, dari luar saja kelihatan kalau rumah sakit ini sudah sangat lama didirikan. Bangunan warna coklat diiringi pohon asan menambah keangkeran suasana rumah sakit itu.

Aku keluar mobil dan mulai membuka bagasi mobil untuk mengambil dua payung. Kemudian aku mengetuk kaca mobil dan memberikan payungnya ke Syifa (adiknya bang Akmal).

“Bismi, paman ke apotik dulu ya, sepertinya paman pilek, kalian berdua masuk saja ke dalam, di dalam ada Bibi dan bang Fahmi juga”, jelas paman padaku.

“Baik paman”, jawabku.

Alhasil aku dan Syifa mulai memasuki rumah sakit, ku lihat jam sudah menunjukkan jam 9 malam, tapi suasana sepi, hening, dan hujan mulai lebat menambah keangkeran rumah sakit ini.

Aku membuka pintu kamar, dan ku lihat bibi telah tertidur, dan bang Fahmi langsung saja mengelus rambutku usai diriku menyalaminya.

“Kak ula (istrinya bang Fahmi) gak datang bang?”, tanya ku.

“Enggak bis, gak ada yang jaga bila di rumah, lagian bila anaknya rewel, kalau di bawa kesini ntar ribut”, jelasnya.

Aku mendekati bang akmal, muka ganteng itu di penuhi oleh beberapa lembar di bagian pipi dan mata.

“Ini anak benar-benar kecelakaan atau maen keroyokan”, kataku pada bang Fahmi.

“Entahlah bis, kau tau gimana abang mu itu, by the way abang pulang ya, bilang sama bibi abang pulang dulu, kasihan kak ula sendirian di rumah, dan Syifa jangan merepotkan kak Bismi”, jelasnya sambil keluar dari kamar.

Bibi masih saja tertidur, agak segan rasanya jika aku membangunkannya. Kemudian bang Akmal terjaga dan mulai memegang tanganku sambil tersenyum.

“Gak lucu”, kataku.

“Khawatir ya”, katanya meledek.

“Moga dirimu cepat mati”, kataku sambil menepis tangannya.

“Bangs*t, bis aku lapar”, katanya lagi.

“Kepingin apa?”, tanyaku.

“Itu anu,aku suka batagor di depan rumah sakit itu Lo”, jelasnya.

Busat dah ini anak gak tau apa, ini rumah sakit sepi dan dia malah nyuruh aku beli batagor di depan RS?

“ishh ya sudah tunggu, Syifa kawanin yuk”, ajakku.

“Gak bisa, mas pacar lagi nelpon”, jawabnya.

Ingin rasanya dirinya itu ku sembelih, hufd terpaksa dah aku sendirian beli batagornya. Aku mulai keluar kamar, kamar bang Akmal berada di lantai dua. Jadi harus menuruni tangga yang lumayan panjang ini dikarenakan lift yang masih saja di perbaiki.

Aku menuruni tangga hingga anak kecil berbaju putih tiba-tiba lewat dari bawah ke atas tangga dengan sangat cepat. Aku terkejut dan melihat kebelakang, dan anehnya anak kecil itu tidak ada.

Perasaanku mulai merasa aneh, bulu kuduk perlahan-lahan mulai berdiri. Aku menuruni tangga dengan cepat hingga aku mendengar suara langkah kaki yang sama saat menuruni tangga. Aku berhenti dan menelan ludah, ku balikkan badanku kebelakang dan anehnya tidak ada siapapun.

Apakah cuma perasaan ku saja? Kemudian seorang perawat pria terlintas di belakangku.

“Mau kemana dek?”, tanyanya.

“Kebawah mas, mau beli batagor”, jawabku.

Sesaat kemudian aku di tegur oleh seorang dokter perempuan yang menaiki tangga.

“Nak ngomong sama siapa?”.

Perkataan dokter itu membuatku terheran. Dan naas saat ku lihat di sampingku, perawat pria tadi malah menghilang.

“Tadi ada perawat pria dok di sini”, jelasku.

“Kamu mau kemana?”, tanya dokter itu sambil mendekatiku.

“Kebawah dok, abang ingin makan batagor”, jawabku lagi.

“Ya sudah kamu kembali ke kamar abang mu, batagor biar dokter saja yang suruh belikan sama satpam”, katanya sambil menyuruhku untuk bergegas kembali.

Aku pun bergegas kembali ke kamar sambil di antarkan oleh dokter perempuan itu. Sebelum aku masuk ke kamar, dokter perempuan yang bernama dokter Sarah ini berpesan padaku.

“Lebih baik kalau malam-malam begini jangan keluar ya nak, apalagi sendiri seperti tadi, takutnya terjadi hal yang tidak di inginkan”, begitulah pesannya.

Kemudian tak lama satpam datang dan memberikan batagor seperti yang di minta bang Akmal tadi.

“Lu suap si satpam ya, sampai mau beli batagor segala, emang lu kagak punya kaki buat gerak sendiri?”, katanya sambil memakan batagor tanpa henti.

“Kalau lu ngomong sekali lagi, sumpah malam ini elu mati”, jawabku yang membuatnya tersedak.

Aku masih saja berpikir tentang perawat pria tadi, sebenarnya ada apa? Kenapa dokter Sarah memberiku pesan seperti itu. Tak lama kemudian paman datang dan mulai membawakan nasi goreng untuk syifa, aku dan bibi. Bibi kemudian terbangun dan memelukku.

“Aishh keponakan bibi kok gak bilang mau kemari”, katanya.

“Hehhe gak tega saja tadi bangunin bibi”, jawabku.

Aku sempat bertanya pada paman, dan mulai bercerita apa yang baru saja ku alami itu. Dan paman terkejut, lalu mengatakan bahwa aku jangan keluar sendiri lagi seperti tadi. Syifa malah duduk pucat dan tak bergerak sama sekali. Aku neras aneh, ada apa dengannya?

“Kak”, katanya.

“Kenapa syif?”, tanya paman.

“Tadi sebenarnya pas kak bismi turun dari tangga mau beli batagor Syifa sempat hampirin karena di suruh temani sama bang Akmal, tapi Syifa lihat dia..” katanya yang gemetaran.

Paman mulai memeluk Syifa dan membacakan doa-doa untuk menenangkan Syifa. Pantasan aku sama sekali tidak memperhatikan Syifa saat memasuki kamar tadi, dan bang Akmal juga sama sekali tidak melihat Syifa yang sedari tadi duduk mematung dan tidak bergerak.

Entahlah mungkin ada keanehan tentang rumah sakit bunda ini. Mengetahui kejadian malam itu, alhasil besoknya bang Akmal di pindahkan ke rumah sakit lain. Dan tentang perawat pria yang kutemui di tangga semalam masih menjadi misteri. Syifa juga tidak menceritakan padaku apa yang ia lihat saat menyusulku ke tangga. Entahlah aku hanya takut jika harus kembali ke rumah sakit itu kembali.

Baiklah sekian cerita dariku. Terima kasih yang sudah membaca. Salam untuk semuanya.

Wassalamualaikum.

Ig: bismi_jasein1108
FB: Bismi Jasein
Wa: 081370400622