Sumirah Si Penjual Bakso

Home > Cerita Horor > Sumirah Si Penjual Bakso – 692 reads

Jejak Sumirah tak nampak beberapa hari. Biasanya menjelang siang, ia sudah berdiri dengan senyum yang mekar, melayani para pembeli. Sumirah, wanita yang kesehariannya berjualan bakso.

Kabar burung berseliweran dari mulut ke mulut. Orang-orang, para raja yang biasa dilayaninya merasakan nestapa. Ada yang bilang bahwa ia sakit keras, pindah kampung, bahkan ada yang tega mengatakan kalau Sumirah sudah tiada.

Pesaing-pesaingnya seperti mendapatkan durian cuma-cuma walaupun ada sebagian yang akalnya bertanya akan keberadaan dirinya. Jaka salah satunya. Dan pada sore itu, ia secara kebetulan bertemu Sumirah yang sedang menata tanaman hias di halaman rumahnya. Momen tersebut tidak disia-siakan Jaka. Pria itu langsung meminta waktu sebentar.

Read Another Stories:

Tak disangka, tiba-tiba Sumirah berkata, “Rasanya hidupku sudah tidak lama lagi, Mas.” Sumirah mengeluh pada lelaki yang mengenakan kaus putih cap soang itu.

“Apa yang kamu rasakan, Sumirah? Lalu, apa alasanmu berkata demikian?” tanya Jaka dengan ekspresi heran.

“Mas Jaka. Apa yang kamu lakukan seandainya dia menjemputmu?” wanita itu balik bertanya.

“Dia siapa? Dan kenapa kamu balik bertanya?”

“Apa yang kamu lakukan seandainya malaikat maut menjemputmu?” Sumirah mengulangi pertanyaannya dengan jelas.

Jaka terdiam. Dia pun tahu, berpikir keras pun tak ada hasilnya. Akhirnya, ia pun menjawab seikhlasnya, “Pasrah.” Di ikuti tatapan Sumirah yang berubah menjadi biasa saja.

Sumirah pun meninggalkan Jaka seraya berkata lirih, “Aku akan mempertimbangkan jawabanmu.”

Jaka terdiam, setelah itu menyalakan sebatang rokok diikuti mimik bingungnya.

***

Lolongan anjing menemani malam Sumirah yang masih sibuk dengan pekerjaannya. Gelap tak membuatnya pantang, sunyi kala itu menambah kegairahan. Tangan-tangannya aktif membuat adonan. Wajahnya dipenuhi peluh yang bercucuran. Di sisi meja belakang, bergeletakan daging segar yang kemudian diterjunkan bebas ke dalam kuali yang mendidih.

Rebusan daging meletup hebat. Andai mereka masih hidup, tentu daging-daging itu menjerit sakit. Kulit yang terkelupas, resapan panas yang merasuk sampai ke akar-akarnya hingga membuat suhu berubah. Matang. Udara yang dingin semakin menusuk kulit Sumirah. Jaket yang amat tebal dikenakannya tanpa dikancing. Hawa yang dapat dirasakan melalui nafas panjangnya. Dari ruangan depan terketuk pintu sebanyak tiga kali. Sumirah merapikan sisa yang berantakan dengan cepat.

“Siapa?” tanyanya, seraya melangkah dengan pandangan curiga.

“Mas Jaka,” ujar Jaka dari balik pintu.

“Ada apa malam-malam ke rumahku? Tidak ada hari esok?” tanyanya, ketus.

“Eh, aku cuma ingin main, sebentar saja.”

“Aku sedang sibuk membuat makanan untuk besok.”

Mendengar hal itu, Jaka tersenyum.

“Sebentar saja.” Pinta Jaka.

Sambil menunggu, Jaka bersandar di balik pintu. Ia mengingat kenangan di bulan lalu, saat cintanya ditolak Sumirah. Sampai saat ini, rasa itu belum hilang, masih melekat dalam sayangnya. Rasa itu tumbuh setelah pertemuannya di warung milik Sumirah. Saat itu mereka mengobrol tidak banyak, hanya saja batin Jaka teramat cinta seketika.

“Sumirah, aku mencintaimu. Aku seperti bunga yang kau hinggapi. Engkaulah kupu-kupu bagiku. Usiamu memang tak muda lagi, meski kamu lebih tua dariku. Tapi, aku … ” tulis Jaka di sebuah kertas usang.

“Aduh!” Jaka tejatuh, berteriak, tetapi dilirihkan. Sumirah mempersilakannya untuk masuk. Mereka berdua duduk dan terdiam sejenak. Hening. Lirikan mata di antara keduanya tak berhadapan, atas-bawah-kanan.

“Sum, aku … aku … ” Jaka memulai obrolan dengan kaku.

“Kamu kenapa harus canggung, seolah baru mengenalku, Mas?”

Jaka berdeham. “Kamu masih ingat kejadian sebulan yang lalu?” tanya Jaka, serius.

Sumirah mengangguk pelan.

“Aku masih menyimpan rasa itu sampai sekarang. Bahkan melebihi cinta Romeo pada Juliet.”

“Kamu masih saja seperti anak-anak,” ujar Sumirah, merunduk, “kamu belum paham, Mas. Tidak tahu aku yang sebenarnya. Kalau hanya mengungkapkan rasa, tetapi tak memahami siapa yang dicintai, biasanya akan berbuah pahit,” lanjutnya.

Mendengar ucapan wanita itu, Jaka bangkit dari kursinya. Ia memegang pundak Sumirah. Namun, Sumirah menepisnya dengan cepat. Jaka tersenyum kecut melihat sikap dari wanita yang ia cintai.

“Aku pamit, ya. Sesuai janji, hanya sebentar.” Jaka berjalan lesu tanpa memandangnya.

Sumirah bergeming hingga tubuh Jaka hilang di kegelapan malam. Raut wajahnya memerah. Ia merebahkan tubuhnya ke atas ranjang yang lembut. Menunggu batinnya reda dalam isak.

***

Terik matahari membuat Sumirah melindungi wajahnya. Pada hari itu, pemasukannya sesuai target. Ia pun memutuskan untuk pulang. Saat dirinya membuka kunci pintu, seseorang datang dan meminta dilayani. Karena Sumirah merasa haus, ia pun ijin padanya mengambil minum di dalam. Tiba-tiba, teriakan histeris terdengar dari luar. Dengan tergesa, Sumirah segera menghampirinya.

“Ada kelingking … kelingking manusia!” jerit pembeli itu. Ia pun meninggalkan Sumirah dalam keadaan histeris.

Sumirah panik dan segera memasukan dagangannya ke rumah, lalu menutup pintu. Hal itu disaksikan Jaka yang tanpa kebetulan melintas. Jaka memandang habis lelaki yang nampak ketakutan tersebut, lalu berlalu menepi seraya menyalakan batangan bakau. Hembusan asap mengebuli langit yang terik. Seketika, khayalan Jaka terbang ke arah wanita berusia 30-an itu.

Ia membayangkan cintanya yang dipeluk mesra, menikah dengannya, lalu punya momongan. Dengan begitu hidup mereka bahagia. Tapi, fantasinya kacau saat kembalinya ucapan Sumirah tempo hari.

“Kalau hanya mengandalkan rasa, tapi tidak mengenal siapa yang dicintai, biasanya akan berubah pahit.”

Tiba-tiba, Jaka dikagetkan oleh desahan Sumirah. Ia pun berlari hingga sempat terpeleset, lalu mendobrak pintu tanpa memikirkan apa pun, kecuali nasib Sumirah.

“Sumirah!” teriaknya, seraya mencari dengan gelisah.

Suara itu terhenti, tetapi di telinga Jaka, suaranya menggantung. Membuat jantungnya berdegup kencang. Jaka tidak menemukan batang hidung Sumirah di ruang mana pun. Hidungnya mengendus sesuatu yang tak asing kala itu. Dari dalam dapur sisi pojoknya, tumpukan tubuh berbau anyir membuat dirinya terbelalak. Bau busuk yang menyengat indra, yang memicu muntahan dari perut Jaka.

Jaka melangkah mundur, tidak tahan dengan penampakan mengerikan itu. Mata yang terurai, jari jemari yang tidak utuh, dan beberapa kepala yang ditancapkan pada trisula. Jaka dapat merasakan ekspresi datar dari jasad yang terberai itu. Semua orang termasuk dirinya tidak ingin mati sia-sia. Sama seperti yang ada di hadapannya. Apalagi kalau mati tanpa mata atau organ lain yang tak lengkap seperti siksa yang berjalan dua kali lipatnya.

“Mas, apa yang kamu lakukan di rumahku?” terdengar Sumirah yang membuat Jaka menengok belakang.

“Cintaku!” ceplos Jaka tanpa malu.

Di susul balok kayu yang menghantam wajahnya.

***

Di malam menjelang subuh, rumah Sumirah nampak gelap. Hanya bagian kamar saja yang dihiasi penerangan berbahan minyak sayur dan kapas.

“Sedari dulu, rahasiaku tertutup rapat. Aku memulai semuanya sendiri dan untuk diriku, kepuasanku. Kau pikir, senyum yang kau dan mereka lihat adalah asli? Tidak,” ucap Sumirah.

“Aku bahagia. Ya, bahagia melihat kalian memperlakukanku dengan baik di saat aku tidak begitu. Aku juga bahagia karena orang bodoh yang berhasil menipu orang yang nyatanya lebih dari dia. Maafkan aku, ya.”

Raut muka Sumirah berubah sedih. “Aku pernah depresi, lo. Usahaku tidak menghasilkan apa-apa. Sampai suatu ketika, datang pelindung yang merangkul dan memberikan jalan. Bakso-bakso itu. Ya, bahannya berasal dari mayat yang kau lihat. Rasanya enak dan berhasil mengubah kedupanku. Ihi-hi-hi …”

“Semua yang kulakukan memang membuahkan dosa, tapi tidak apa karena sebentar lagi, aku akan tenang dalam dekapan kekasihku. Oh, iya … kamu tahu tidak, katanya ada lelaki yang mencintaiku, tapi ia tidak tahu siapa aku. Memang, kurasa ia cukup tampan. Namun sayang, enggak cukup mapan. Tahu tidak siapa? Itu kamu!” Sumirah menunjuk Jaka yang terduduk kaku, kemudian tertawa cekikikan.

Suara gemuruh yang begitu kuat dirasakan oleh Sumirah. Jaka yang sejak tadi bergeming, menyaksikan wanita yang di cintainya digandeng malaikat maut menuju tempat yang sama.

Sumirah memekik. “Aku akan mengikuti saranmu waktu itu, Mas.”

Di susul suaranya yang nampak tercekik. Akhirnya, Jaka menyaksikan kematian Sumirah tanpa harus khawatir seperti dulu.