Penunggu Hutan Sangur

Hari libur telah tiba!! Fiska dan teman-temannya yaitu Andit, silvia, berno, dan lia berencana akan pergi ke hutan sangur, hutan tersebut terkenal dengan angkernya, di hutan sangur terdapat sebuah misteri bahwa di tengah-tengah hutan ada sebuah danau merah, konon katanya danau tersebut ada sosok penunggunya yaitu seorang perempuan tua yang bernama sangur. Misteri tersebut diceritakan bahwa siapa yang berkunjung kesana dia akan MATI!!

Tetapi Fiska dan teman-temannya ini tidak percaya dengan cerita tersebut, karena keindahan dari danau tersebut tidak mungkin seseram itu. Dan keesokan harinya mereka pun bersiap-siap untuk berangkat ke hutan tersebut.

Fiska: eh guys barang-barang udah siap kan semuanya?

Andit: udah kok tenang aja.

Lia : yakin nih kita mau kesana?

Silvia: yakin dong, emangnya kenapa lu takut yaa.

Lia: siapa yang takutt, aku cuman … (dipotong berno).

Berno: udah jangan khawatir ada aku sama Andit kok yang akan jaga kalian jadi tenang aja ya.

Fiska: udah-udah ayok berangkat ntar lama lagi sampai kesana.

Mereka pun langsung berangkat menuju hutan sangur. Di jalan tersebut mereka melalui jalan yang terjal dan harus melewati beberapa desa. Di tengah perjalanan mereka melihat kakek-kakek berada di tengah jalan yang menghalangi jalan mereka. Lalu si Fiska pun turun untuk menghampiri kakek tersebut.

Fiska: Permisi kek, kok kakek di tengah-tengah jalan kan bahaya nanti ketabrak.

Kakek tersebut pun hanya diam memandangi wajah si fiska, lalu kakek itu berkata.

Kakek: Pulang lah nak!!

Fiska: emangnya kenapa kek?

Kakek tersebut tanpa berbicara langsung pergi meninggalkan Fiska.

Fiska: Dasar orang aneh.

Lalu Fiska pun kembali ke dalam mobil.

Andit: ada apa fis?

Fiska: gak tau si kakek, malah nyuruh kita pulang, terus aku tanya kenapa? Dia malah pergi, dasar orang aneh.

Lia: jangan-jangan?

Silvia: udah jangan pikir yang aneh-aneh, lanjut jalan aja dit.

Andit: okey.

Mereka pun melanjutkan perjalanan tersebut, sebelum sampainya di hutan sangur mereka sampai di sebuah desa yang bernama desa sungai nipah. Di desa tersebut mereka istirahat sejenak sambil berbincang-bincang dengan warga setempat tentang hutan sangur. Ada salah satu warga bernama pak deni. Pak deni adalah kepala desa tersebut.

Fiska: permisi pak kita numpang istirahat sebentar ya disini.

Pak deni: oh iyaa silahkan, kalian mau pergi kemana dek?

Fiska: kita mau ke hutan sangur pak.

Silvia: iya pak kita mau ke hutan sangur, bapak tau gak?

Pak deni: hutan sangur? Kalian yakin ingin pergi kesana?

Fiska: iya pak kita pengen kesana. Emangnya kenapa pak ?

Pak deni: begini, saya bukan mau menakuti kalian, waktu itu banyak juga yang pergi ke hutan sangur tapi sampai sekarang mereka gak pernah kembali sampai saat ini.

Andit: lah kok bisa pak?

Pak deni: iya, saya juga tidak tahu kenapa mereka tidak kembali, setiap orang yang masuk kesana tidak aka pernah kembali.

Lia: aduh aku jadi takut, mending pulang aja yok.

Pak deni: betul, sebaiknya kalian pulang saja dari pada nasib kalian akan sama seperti mereka.

Berno: gak mungkiin dong pak, kita udah jauh-jauh datang kok malah disuruh pulang.

Silvia: udah no, tenang jangan emosi.

Fiska: oh iya pak, tadi kita ketemu sama kakek-kakek di tengah jalan yang menghalangi mobil kami.

Pak deni: kakek-kakek?

Fiska: iya pak, dia juga menyuruh kami pulang, tapi tidak tahu alasannya kenapa? Tiba-tiba langsung pergi aja.

Pak deni: waktu itu mereka yang ke sini juga bertemu dengan kakek-kakek itu ceritanya sama persis yang kau bicarakan.

Lia: tuh kann, pulang aja yok aku gak mau ikut.

Andit: firasat ku juga gak enak fis? Gimana ini?

Berno: yaelahh kalian penakut banget sih.

Andit: bukannya takut no kita harus hati-hati.

Fiska: benar kata andit, sebaiknya kita jangan kesana.

Berno: terserah lu pada lah.

Silvia: lalu gimana sekarang?

Pak deni: ya sudah sebaiknya kalian istirahat dulu disini semalam, besok aja kalian pulangnya bahaya juga sekarang udah malam, kebetulan saya ada rumah yang kosong kalian bisa tempati dulu sementara.

Fiska: ya udah boleh pak.

Pak deni: baik, ayo ikuti saya.

Mereka pun mengikuti pak deni untuk beristirahat semalam disana sampai menunggu waktu esok untuk mereka pulang. Dan setelah sampai di sana.

Pak deni: ini kunci rumahnya kalian istirahat ya.

Andit: terima kasih ya pak.

Pak deni: iya sama-sama, kalau begitu saya tinggal dulu.

Fiska: iya pak.

Lalu mereka pun beristirahat di rumah itu. Saat mereka tidur si fiska pun bermimpi bahwa dia masuk ke dalam hutan sangur hingga ke danau merah dan dia melihat sosok perempuan tua yang menjaga danau tersebut tetapi ada yang aneh sama danau tersebut dia melihat ada banyak mayat yang ada disana mungkin itulah kenapa banyak orang kesana dan tidak kembali sampai saat ini.

Si fiska pun berlari ketakutan karena sosok perempuan tersebut memegang pedang panjang yang berlumuran darah, ketika lari si fiska pun terjatuh lalu terbangun dari mimpi tersebut, tanpa di sadari andit, silvia, berno, dan lia juga terbangun. Fiska pun merasa heran lalu bertanya kepada mereka.

Fiska: kalian semua kok belum tidur?

Lia: aku habis mimpi fis.

Fiska: mimpi? Mimpi apa?

Lia: aku mimpi masuk ke hutan sangur dan melihat perempuan tua di tepi danau sambil memegang pedang yang berlumuran darah.

Fiska: apa? Kok mimpi kita sama.

Andit: aku juga bermimpi yang sama.

Silvia: aku juga.

Fiska: berno, jangan bilang kamu juga mimpi yang sama?

Berno pun terdiam sambil bergegas.

Fiska: jawab no.

Andit: lebih baik kita pergi dari sini sekarang.

Lia: betul, kita pergi aja dari sini.

Lalu mereka pun mengemaskan barang-barang mereka yang ada di rumah tersebut. Tetapi pas mereka keluar dari rumah tersebut ternyata rumah tersebut berada di tepi danau merah, dan lebih parahnya lagi desa sungai nipah itu adalah hutan sangur dan tidak ada penghuninya sama sekali disana dan pak deni itu adalah sosok perempuan tua yang berubah wujud. Mereka sudah terjebak dan mereka sudah tidak tahu apa yang harus mereka lakukan.

Lia: ini gimana nih aku gak mau terjebak disini aku pengen pulang (sambil menangis).

Fiska: tenang dulu lia, aku juga bingung.

Lalu mereka pun menenangkan lia terlebih dahulu, tanpa disadari si berno sudah pergi dulu dari mereka. Ternyata berno di kejar sama perempuan tua itu hingga berno tersesat di hutan. Lalu mereka pun menyari keberadaan si berno. Berno terus berlari semakin jauh ke dalam hutan tersebut, dan berno pun terjatuh tanpa di sadari dia terjatuh di hadapan perempuan tua tersebut, dan si berno tidak dapat bergerak sama sekali, sosok perempuan tersebut langsung membunuh si berno dengan pedang tersebut tepat di dadanya. Tidak lama kemudian mereka pun menemukan berno yang sudah tidak bernyawa dengan pedang yang tertancap di dadanya. Mereka pun menangis melihat temannya yang sudah di bunuh itu.

Andit: fis, secepatnya kita harus meninggalkan tempat ini.

Fiska: aku tau dit, cuman gimana caranya sedangkan kita terjebak disini.

Lia: aku mau pergi dari sini (sambil menangis).

Silvia: tenang Lia kita juga ingin pergi dari sini sabar yaa kita cari jalan keluarnya sama-sama.

Andit: guys, kalian lihat gak?

Fiska: lihat apa dit?

Andit: itu ada sosok perempuan tua.

Silvia: kamu jangan macam-macam.

Andit: hehe bercanda.

Fiska: udah tau kita lagi panik masih aja bercanda.

Andit: iya maaf.

Lalu mereka pun mencari jalan keluar, tidak lama kemudian mereka mendengar suara yang tidak biasanya mereka dengar suara itu berasal dari danau merah yang ada di tengah-tengah hutan tersebut ternyata sosok perempuan itu membawa mayatnya berno dan membuangnya ke danau tersebut. Mereka pun berlari dari tempat tersebut tanpa mereka sadari si lia hilang dari mereka dan mereka mendengarkan suara lia yang berteriak minta tolong.

Lia: Fiska, andit, silvia tolong aku.

Fiska : eh itu kan suara Lia.

Andit : iya benar, suaranya disana ayo kita lihat.

Lalu mereka langsung bergegas menghampiri si lia dan silvia melihat Lia ada di atas pohon dengan kaki terikat dan kepala dibawah.

Silvia: eh itu si lia.

Fiska: astaga lia.

Lia: fis tolong aku.

Fiska: sabar ya lia, dit kamu naik potong talinya.

Andit: kok aku, kan dia minta tolong sama kamu.

Silvia: dit bukan waktunya bercanda.

Andit: iya, iya.

Lalu si andit pun naik ke pohon tersebut untuk memotong tali yang mengikat si Lia. Ketika hendak mau memotong tali tersebut si andit melihat sosok perempuan tua lewat tidak jauh dari mereka lalu andit pun perlahan memotong tali tersebut dan berhasil. Dan akhirnya lia pun selamat.

Fiska: kok bisa si lia kamu terikat di pohon itu.

Lia: tadi pas kalian lari kamu bukan memegang tangan ku fis.

Fiska: lah kok bisa?

Lia: iya kamu tadi memegang tangan perempuan itu dan tiba-tiba aku kayak dipukul gitu sampai pingsan pas aku bangun tiba-tiba udah terikat diatas pohon.

Fiska: astaga bisa-bisanya.

Silvia: udah yang penting lia selamat.

Andit: kita gak bisa tinggal diam, kita harus bunuh perempuan itu.

Fiska: dit kamu jangan cari gara-gara.

Andit : dia udah bunuh teman kita fis dia udah bunuh berno.

Fiska: aku tau dit, tapi gak gini caranya?

Silvia: udah dit, kamu tenang dulu

Andit: gak, aku gak terima aku harus ketemu sama perempuan tua itu.

Si andit pun pergi ke danau untuk membunuh perempuan itu, lalu fiska, silvia dan lia mengejar andit untuk menahan dia. Tapi itu tidak cukup, dan si andit pun tiba di danau tersebut.

Andit: hey kamu keluar jangan berani di belakang aja kalau berani sini keluar hadapin aku (sambil berteriak).

Lalu tidak lama kemudian sosok perempuan tua itu pun tiba-tiba muncul dihadapan andit.

Andit: akhirnya kamu keluar juga.
Perempuan tua: kamu pergi dari sini atau aku bunuh kamu.
Andit: apa kamu mau bunuh aku hahaha, aku yang akan bunuh kamu.

Lalu si fiska, silvia, dan lia pun sampai dan mereka melihat andit dan perempuan itu sedang berhadapan

Fiska: andit aku mohon jangan.

Andit: gak fis, aku gak bakal biarin dia bunuh kita.

Lalu andit pun langsung mengambil tombak yang tajam yang didekatnya dan langsung menancapkan tombak itu ke perempuan tersebut. Tetapi itu tidak berhasil tombak itu tidak bisa mengenai perempuan tersebut lalu kemudian perempuan itu menancapkan pedang yang dimilikinya dan si andit masih bisa menghindar lalu andit berlari ke arah fiska dan yang lainnya dan si perempuan itu melemparkan pedang itu ke andit tetapi andit terjatuh dan selamat dari lemparan tersebut. Tidak disangka-sangka pedang itu tertancap di tubuh silvia.

Andit: silvia.

Fiska: sil kamu gak boleh mati sil.

Lia: sil kita kan udah janji mau makan pizza kesukaan kamu nanti.

Andit pun melepaskan pedang yang tertancap di tubuh silvia, tidak lama kemudian silvia pun meninggal, lalu andit mematahkan pedang tersebut dan perempuan itu langsung hilang dan seketika langit menjadi cerah dan danau pun tidak menjadi merah lagi. Lalu mereka membawa mayat silvia untuk dibawa pulang agar dimakamkan dengan selayaknya lalu mereka menemukan jalan keluar dan menemukan mobil mereka tersebut. Mereka pun pulang dan sampai dengan selamat membawa silvia ke rumah keluarganya. Lalu silvia pun langsung dikuburkan dan silvia sudah tenang di alam sana tetapi mereka sedih mereka tidak bisa membawa berno pulang kerumah karena mayatnya sudah hilang di danau tersebut.

Oke ceritanya sampai disini saja ya maaf kalau ada yang masih kurang, nanti kapan-kapan saya akan buat cerita yang tentunya akan lebih menarik lagi dan menyeramkan ditunggu saja ya!

Jangan lupa selalu menggunakan masker saat berpergian dan jaga jarak untuk memutus rantai covid 19 ini.

Jangan lupa di follow instagram saya:
@zakialfnda_

Dm aja kalau mau di follback. Sampai jumpa kembali.