Si Pengganggu

“Heh, pelan-pelan dong. Aku ketinggalan nih. Lagian disitu serem banget” Ucap sepupuku Fai.

“Adu, capek aku tuh. Pengen minum” Cicit May.

“Udah hampir sampai, lagian tinggal nyebrang kali ini” Sergahku kesal.

Padahal, awal sebelum kesini. Mereka senang, antusias ingin ikut jalan kaki kerumah simbahku yang beda desa dari tempat kami tinggali. Kami hanya bertiga berjalan sekitar 3-4 kilo meter dari rumah ke desa tetangga, lewat persawahan. Sebenarnya jika melewati jalan utama akan lebih mudah dan lebih cepat. Tami kami, masih bocah, masih kecil untuk bermain di jalan kata orang tua. Meski kami hanya sekedar lewat, tetap tak boleh. Karena banyak kendaraan lalu lalang.

“May, kamu dulu nyebrang. Nanti aku tuntun” Pintaku.

Karena sepupuku Fai sudah terlebih dulu menyebrangi kali kecil dengan wot/jembatan bambu yang disusun berjajar tiga batang.

“Ih aku gak berani. Coba kamu dulu Wi” Pintar May. Aku merasa gemas, begitupun Fai.

“Ya sudah, aku dulu. Tapi janjinya, harus lari” Jawabku seenaknya.

Tiba-tiba “sreeekk kreeek ket ket kreeet” Suara di kerumunan pohon bambu sebelah kali yang akan kami sebrangi, membuat May menjerit ketakutan.

“Kyaaa… Aku takut. Aku mau pulang, Hu hu hu” Tangisnya.

“Cepat sini-sini May, pegang tanganku kuat. Dan cepat menyebrang” Pintaku.

Belum kelar May menyebrang dengan ketakutan diiringi tangisan dan genggaman tangannya yang erat ke tanganku.

“Kriiiieeet ket ket ket kreeek”

“Huuaaa… Maaeee… ” Heboh May yang ketakutan, hingga lari menabrak ku yang di depannya. Sehingga mau tak mau aku pun menabrakkan diri pada sepupuku Fai yang hendak beranjak bangun dari duduknya untuk lari.

“Bruakk bruuug, aduuh” Pekik kami bersamaan di tanjakan rimbunan pohon bambu petung milik Simbahku.
Kami nyengir bersamaan.

“Ono opo, bocah! Jerat jerit. Bedug bedug” Suara Kakek atau simbahku.
Yang menuju ke pekarangan belakang rumahnya. Karena mendengar keributan kami di siang bolong.

“Hehe anu mbah. Ono hantu” Kata Fai.
“Hantu hantu opo. Wes gek bali opo mlebu omah” (Hantu hantu apa, dah pulang apa masuk rumah)

Kami pun menuju rumah simbah, sambil minta minum. Dengan pikiran masing-masing.

“Bedug-bedug ra usah keluyuran, opo meneh dolanan nang kali. Lha mamakmu podo reti ora, nek do Rene! ” Omel simbah.
(Siang-siang tidak usah pergi, apalagi bermain di kali. Ibumu semua pada tahu tidak, kalau pada kesini)

“Reti mbah. Mau wes pamitan sebelum pergi kesekolah” (Tau Kek, tadi sudah pamitan) jawabku tak enak.

Bukan tanpa alasan Kakek memarahi kami. Karena dari dulu, jika siang bolong atau waktu jam 11-1 siang itu para demit(bukan Dwi ya) sering berkeliyaran. Yang konon katanya, mereka sekeluarga bangsanya suka mencari anak kecil yang bermain di luaran rumah di jam-jam tersebut.

Itu sebabnya mitos zaman dulu, banyak orang tua yang mempunyai bayi. Selalu memasukkan bayinya ke dalam rumah masing-masing dan juga anak-anaknya.

Setelah ini pun. Kami tidak kapok. Kami berpetualang di hari esoknya hingga bosan. Dan membuat May tidak mau ikut lagi. Mau tahu alasannya? Pantengin saja di KCH. Dan tentunya di cerita dari Dwy dwi dandwi yang imutnya amit-amit . Salam.