Hening

Home > Cerita Seram > Hening – 1867 reads

Assalamualaikum … selamat membaca. Handphoneku telah beberapa kali berdering, hanya saja diriku merasa dengan untuk mengangkatnya, kenapa tidak? Si pujaan hati yang membuat diriku semakin muak melihatnya. Baru beberapa hari yang lalu aku bertengkar hebat dengan pacarku, hingga kata putus keluar dari mulutku setelah 2 bulan pacaran dengannya.

Aku masih saja melipat lutut sambil punggungku bersandar di kaki meja belajarku. Aku menangis, bukan menangis perihal diriku dengan pacarku, tetapi menangis atas pertengkaran mama dan papa yang tidak pernah reda itu.

Hujan deras mulai turun, rumah terasa hening ketika aku mulai berhenti menangis. Aku berdiri dan mulai membukakan pintu kamar sambil melihat kesana-sini, mencari sosok nenek yang ingin ku peluk itu.

Read Another Stories:

Aku berjalan ke kamar nenekku, kulihat jam telah menunjukkan jam 5 sore, aku mengetok pintu kamar nenek.

“Nek? Adakah nenek di dalam? Aku lapar”, kataku padanya.

Nenek membukakan pintu kamar dan mengelus rambutku dengan lembutnya sambil mengatakan bahwa ia akan memasakkan nasi goreng untukku.

Hujan mulai sedikit reda, handphone di kamarku berbunyi kembali, aku bergegas dan mulai melihat layar handphone dan ternyata itu adalah papa. Ahh kenapa harus nelpon, aku muak tentang pertengkaran mama dan papa yang dari dulu tidak pernah usai.

“Halo, kenapa pa”, jawabku dengan nada yang sedikit tinggi.

Tapi … suara aneh apa ini, aku mendengar suara detak jantung di handphone, suara detak jantung yang semakin terdengar itu membuatku mulai mengeluarkan keringat dingin. Aku bergegas mematikan handphone, kemudian aku di kejutkan dengan pintu lemariku yang mendadak tertutup sendiri.

Aku melihat ke arah lemari, ku mohon apa itu? Bisakah waktu hening ini tidak membuat suasana yang tidak menyenangkan? Aku menelan ludah sembari mendekatkan diirku ke arah lemari, dan tak lama aku mulai membukanya, dan syukurlah tidak ada apapun di dalam sana.

“Bismi, ayuk makan nasinya sudah siap”, kata nenek sambil membuka pintu kamarku.

“Iya nek”, jawabku.

Aku bergegas keluar kembali, dan mulai makan di dapur seorang diri. Selesai makan suasana dapur mulai agak terasa panas, padahal hujan di luar sana turun kembali.

Aku melihat ke sekeliling dapur, hening sekali!! Bukankah ini menambah bulu kudukku semakin merinding. Aku melihat ke arah jendela di sebelah kiriku. Sekilas bayangan hitam panjang lewat di jendela yang ku perhatikan itu. Hal itu membuatku langsung berdiri dan mulai berlari ke ruang tamu, ahhh aku terjatuh ke lantai, sepertinya kakiku terkilir, aku melihat ke arah kolong meja makan, ouhhh Tuhan penampakan mengerikan apa ini.

Aku melihat seorang wanita kecil dengan kepala yang telah terjatuh ke lantai. Aku mual, nasi yang ku makan tadi telah ku keluarkan semua, aku masih saja melihat ke arah kepala yang terjatuh itu, tak lama kemudian kepala itu malah berputar dan malah mendekati tanganku. Aku berteriak memanggil nenek, suaraku naas tidak terdengar karena terhalang suara hujan. Ya Tuhan ku mohon tolong aku.

Setelah beberapa menit sambil memejamkan mata dan membaca ayat kursi 4 kali, alhamdulillah akhirnya penampakan yang kulihat tadi menghilang. Aku mulai berdiri kembali, walaupun dengan kaki yang agak gemetar. Aku melangkah dengan pelan ke ruang tamu. Sungguh sangat hening suasana rumah nenek, dan ini membuatku sesak nafas jika mengingat kejadian yang ku alami tadi.

Setelah sampai di ruang tamu, kakiku mendadak sangat sulit untuk di gerakkan, entah kenapa tiba-tiba terasa berat jika aku berjalan.

Huffff sangat menjengkelkan di keheningan ini. Kapankah rumah ini akan kembali ramai seperti dulu? Entahlah aku hanya berharap bahwa suatu hari mimpi keramaian itu akan terwujud.

And
Thanks for reading…

Ig: @bismi_jasein1108
Fb: Bismi Jasein