Burung Gagak di Rumah Nenek

Assalamualaikum dan selamat membaca. Aku menutup buku novelku, sekitar 3 jam lebih aku telah membacanya. Entah karena memang minat membaca atau meluangkannya di waktu kegabutanku.

Aku memeriksa handphone, ku dapati chat kampus yang semakin menumpuk. Libur semester akhirnya tiba tapi anehnya diriku hanya bermalas-malasan di kamar saja tanpa melakukan sesuatu yang menyenangkan sedikit pun.

Aku melangkah keluar kamar, seseorang mulai menekan bel rumah, ahhh siapa sore sore begini datang? Ku lihat jam sudah menunjukkan pukul 3 sore. Aku bergegas membukakan pintu dan ternyata ia adalah sahabatku Yati.

“Haii pacarku, sudah makan gak kamu bis, nihh aku bawa mie ramen”, katanya sambil memperlihatkan mie ramen buatan ibunya itu.

“Iya bawel, masuklah”, jawabku sambil tersenyum.

Kami bergegas makan dan setelah itu Yati membuka pembicaraan yang membuatku agak bingung.

“Bismi, saat aku kesini tadi banyak banget burung hitam yang berteduh di pagar rumahmu”, katanya sambil minum.

Burung hitam? Burung apaan tuh”, kataku agak heran.

“Apa ya…gagak gak sih”, katanya yang membuatku tersedak saat minum.

Aku teringat dengan kejadian minggu lalu, saat nenekku hendak membuang sampah kebelakang rumah, ia juga di kejutkan dengan 23 ekor gagak yang berterbangan di sekitar rumahnya. Entah kenapa dengan mata yang agak rabun itu nenek malah bisa menghitungnya dengan cepat.

Setelah mengobrol dengan lama bersama yati, akhirnya ia pamitan pulang karena hari juga sudah lumayan sore. Aku pun mengantarnya ke teras rumah dan dapat kulihat di pagar rumah beberapa burung gagak malah bersuara sambil berterbangan ke sana kemari.

Aku menutup pintu, udara dalam ruangan agak merasa aneh. Aku bergegas memasuki kamarku dan mulai membaca novel kembali. Beberapa menit kemudian aku di kejutkan dengan seekor burung gagak yang bertengger di samping jendela kamarku. Seperti sedang memperhatikan gerak-gerik ku.

Aku merasa suara aneh mulai terdengar di iringi dengan suara burung gagak yang mulai ricuh.

“Ahhh gagak sialan, kenapa banyak burung gagak di rumah kita”, kata bibi sambil memasuki kamarku seraya meletakkan mie pangsit yang masih panas.

“Makasi bibi”, kataku.

“Makanlah sebelum dingin”, katanya sambil melihat ke arah jendelaku.

“Gagak itu masih di situ”, katanya sambil melihatku.

“Entahlah dia sudah dari tadi di situ”, jawabku.

Bibi mulai keluar kamar, sambil mengatakan padaku bahwa suasana kamarku agak terasa aneh.

Aku melihat ke sekeliling kamar, ia sih agak mulai panas udaranya padahal di luar sana hujan rintik-rintik mulai terdengar dan langit pun lama kelamaan mulai menghitam.

Aku kemudian membuka jendela, memandangi burung gagak yang masih saja bertengger di pagar rumahku, walaupun hujan rintik-rintik mulai turun, tetap saja burung gagak itu tidak pergi. Sebagian dari meraka berada di bawah jendela kamarku, sebagian lagi di atas pagar halaman,dan sebagian lagi berada di teras samping dan depan rumah.

Apakah yang sebenernya terjadi? Mengapa semuanya harus berada di rumah nenekku? Ahhh sial apa mau mereka.

Aku menutup jendela dengan keras, merasa kesal dengan pemandangan yang tidak ku inginkan ini. Suasana kamar mulai kacau, aku merasa seperti ada seseorang berada di kamarku. Aku melihat ke sekeliling kamar kembali, karena ketakutan akhirnya aku keluar dan menemui nenek.

“Nenek bisakah kau mengusir burung gagak itu? Itu sangat menganggu”, kataku sambil rebahan di atas sofa.

“Biarlah, nanti juga mereka pergi”, kata nenek tenang sambil merakit syal yang berwarna hitam itu.

Entah lah aku tak tau kenapa nenek menjawabnya dengan tenang, sedangkan aku dan bibi sungguh tak tahan dengan kehadiran burung gagak itu, ahhh sial adakah makna tersembunyi dari datangnya gagak ini? Entahlah? Jika tidak!! Kenapa harus di rumah nenekku? Why? Cukup sekian .. Wassalamu’alaikum.