Desahan Malam

Home > Kisah Misteri > Desahan Malam – 3525 reads

Assalamualaikum..selamat membaca. Diriku membaca Novel di atas meja belajarku, hari ini tepatnya bulan Maret aku mampir ke rumah pamanku di Jakarta. Nyatanya untuk bersilaturahmi sekaligus menahan rindu untuk bibi dan paman. Suara bibi mulai terdengar dari luar kamarku, aku berpaling dari novelku dan mulai melirik ke arah pintu kamar yang mungkin sebentar lagi akan terbuka.

“Bismi, kamu lihat bang Asra?”, tanya bibi padaku sambil membawa segelas mangkuk mie.

“Tidak bibi, bukannya bang Asra lagi balapan”, jawabku.

Read Another Stories:

“Anak itu, kenapa ia mesti menjadi anak jalanan yang sangat kurang ajar”, jawab bibi kemudian sambil keluar dari kamarku.

Iyah aku punya Abang sepupu yang 3 tahun lebih tua dariku, kesibukannya adalah balapan dan bahkan bermain-main dengan perempuan bahkan pernah sekali paman menemukan bang Asra sedang melakukan perbuatan se×× di kamarnya bersama dengan teman wanitanya. Bukankah itu sangat tidak baik? Dan juga hubungan bang Asra dengan ayahnya juga tidak begitu baik, selama 3 hari aku tinggal di sini, ada saja pertengkaran sengit antara paman dan bang Asra saat ia pulang ke rumah.

Diriku dan bang Asra juga jarang sekali mengobrol, saat bertemu palingan cuma saling pandang tanpa berbicara satu katapun. Aku keluar kamar dan menemukan bibi dan paman sedang membawa koper besar ke dalam mobil.

“Paman mau kemana?”, tanyaku.

“Ya Allah paman lupa kamu di sini Bismi, habis tidak pernah keluar kamar kamunya, paman sama bibi ke rumah kakekmu dulu ya (ayahnya bibi)”, jelas paman sambil mengusap kepalaku.

“Ahhh sudahlah, ia tidak apa-apa paman, lagi pun ada bang Asra juga di rumah”, jawabku.

“Ahhh anak brengsek itu, bagaimana caranya memperlakukan anak bajingan itu”, kata paman yang sedikit emosi.

Aku cuma tersenyum menanggapi ucapan paman, toh aku juga tidak punya hak untuk ikut campur dalam urusan keluarga mereka. Malamnya aku sedang bermalas-malasan di kamarku sambil menonton drama Korea True Beauty, alhasil aku mendengar suara vas bunga yang seperti terjatuh. Aku bergegas dan mulai keluar dari kamar, dan ternyata bang Asra tergeletak di lantai karena mabuk.

“Bang kamu kenapa?”, kataku sambil membantunya berdiri.

Bau alkohol jelas tercium dari tubuhnya itu. Aku membawa bang Asra ke kamarnya dan ternyata ia demam. Aku mengompres dirinya dan kuratapi wajah tampannya itu yang semakin hari tampak menyedihkan. Aku kembali ke kamarku, hingga jam 20.00 malam pun tiba, aku masih saja menonton Drakor dan secara tidak sengaja aku mendengar suara desahan.

Aku melihat ke sekeliling kamar, suara apa itu? Bang Asra kali ya? Apakah bang Asra membawa seorang gadis ke rumah? Aku mulai panik dan bergegas keluar kamar dan anehnya bang Asra sedang tertidur lelap di atas tempat tidurnya. Lantas suara desahan siapa ini? Aku sedikit ketakutan, rumah yang sepi dan besar ini membuatku segan untuk tidur sendiri. Aku masuk ke dalam kamar bang Asra dan mencoba membangunkannya.

“Bang, bangun bang”, kataku sambil menggoyang lengan tangannya.

Akhirnya bang Asra tersadar dan menjawab ada apa. Keringat akibat demamnya itu membasahi seluruh baju kaosnya itu.

“Aku denger sesuatu”, kataku padanya.

Bang Asra menatapku dan mulai ikut mendengarkan suara desahan nafas yang kudengar.

“Ayah ibu mana?”, tanya nya sambil bangkit dari tempat tidur walaupun dengan kepala yang masih pusing.

Aku mengikuti bang Asra dari belakang sambil menjawab kalau bibi dan paman pergi ke rumah kakek. Kami tiba di ruang tamu, aku mengambil minuman hangat untuk menghilangkan mabuknya bang Asra. Kemudian suara desahan itu kembali terdengar di ruang tamu. Bang Asra menatapku dan berkata ia akan mengecek kamar bibi dan paman.

“Bang aku ikut”, kataku.

“Sudah di situ saja”, jawabnya sambil memeriksa kamar bibi dan paman sedangkan aku sendirian di ruang tamu.

Aku melihat ke sekeliling, dan naas aku dikejutkan dengan suara cakaran di jendela ruang tamu. Aku teriak dan memanggil bang asra. Tapi kenapa bang Asra tidak menyahut? Yang ku tahu rumah bibi dan pamanku ini sudah lama tidak di tempati oleh pemilik sebelumnya, bang Asra juga baru 2 bulan tinggal di rumah ini.

Alhasil aku berkeringat dan mulai berlari kecil ke kamar bibi dan paman, dan saat diriku membuka pintu kamar, aku melihat bang Asra sedang duduk di kursi make up bibi sambil melihat kaca dengan wajah yang pucat.

“Bang aku dengar ada yang cakar jendela, ngapain di situ?”, kataku yang mulai panik melihat bang Asra yang terus-terusan menatap kaca tanpa berkedip.

“Bis ngomong dengan siapa?”, perkataan bang Asra mengejutkanku.

Dan inilah kejanggalannya, saat ku melihat ke kursi make up bibi, saat tadi bang Asra di situ sekarang telah menghilang.

“Bang bukannya tadi kamu duduk di kursi make up bibi?”, tanyaku

“Enggak bis, barusan aku dari dapur”, jawabnya.

Aku dan bang Asra berpandangan, suara desahan itu kembali terdengar.

“Sialan suara desahan apa itu?”, kata bang Asra sambil memegang dahinya.

Suara bel rumah berbunyi, aku memegang lengannya Asra, berharap ia tidak membukanya. Alhasil pencegahanku tidak berhasil, bang Asra lantas saja membukanya tapi setelah di buka tidak ada siapapun di luar. Hal ini semakin membuatku takut, keringat dinginku mulai keluar.

“Ya sudah gini saja, kamu tidur di kamarku, kamu tidur di atas sedangkan aku tidur di bawah”, katanya sambil memegang lenganku untuk bergegas tidur.

Aku berusaha tidur sebisaku tapi sayang sekali hal ini tidak juga berhasil. Aku melihat ke bawah tempat tidur, kuratapi bang Asra sudah tertidur lelap. Mungkin karena demamnya ia juga mudah tertidur, tapi lain denganku tak kunjung tertidur juga. Jam sudah menunjukkan pukul 00.34 dini hari, saat itu aku belum bisa tertidur juga. Aku mencoba menutupi seluruh tubuhku dengan selimut. Ahh suara desahan itu kembali terdengar, tapi kali ini suaranya agak lumayan kecil dari yang tadi kudengar bersama dengannya Asra.

Aku masih saja menyelimuti tubuhku dengan selimut, hingga suara desahan nafas itu perlahan-lahan menghilang di iringi dengan suara hujan yang makin lama makin terjatuh.

Aku membuka selimutku, aku terbangun dan melihat ke arah pintu kamar. Bang Asra masih saja tertidur dengan lelapnya. Ahh sial desahan malam apa itu? Kenapa mesti aku harus mendengarnya. Kemudian suara jendela kamar di ketuk-ketuk dengan nada halus, aku melihat ke arah jendela. Kemudian aku melihat sosok panjang besar dari balik bayangan jendela kamar, aku menyelimuti diriku kembali dan nafasku yang mulai sesak ini sangat menganggu. Suara desahan itu kembali terdengar tapi kini seperti berada di sampingku.

Aku segan untuk membuka kembali selimutku. Alhasil entah berapa jam diriku berposisi seperti itu dan kemudian tak lama akhirnya aku tertidur. Besok paginya aku dan bang Asra di kejutkan dengan pecahan kaca di kamarnya bang Asra. Bukankah ini aneh? Jika jendelanya pecah bukankah seharusnya suaranya bisa terdengar? Tapi ini? Aku dan bang Asra sama sekali tidak mendengarnya.

Akhirnya diriku ceritakan sosok besar panjang yang kulihat tadi malam di jendela kaca ini. Dan anehnya bang Asra sama sekali tidak terkejut dengan ceritaku. Apakah ia mengetahui nya? Entahlah.

Dan dari kejadian desahan malam ini, aku mulai akrab dengan bang Asra, dan perlahan-lahan ia mulai mengurangi mabuknya dan bahkan tidak pulang terlalu malam ke rumah. Malam-malam selanjutnya diriku masih saja mendengar suara desahan itu, khususnya pada sekitaran jam 10 malam. Diriku juga sebenarnya tidak mengetahui sosok apa dan desahan apa yang kulihat serta kudengar itu. Sekian … Wassalamu’alaikum..