Suara Ayunan

Malam itu hujan gerimis, diriku berjalan dengan cepat agar sesegera mungkin tiba di rumah. Akan tetapi, sepupuku Aulia malah menarik bajuku untuk berhenti berjalan.

“Kenapa de?”, tanyaku.
“Kak, pergi ke rumah temanku dulu yuk”, katanya.
“Buat apa? Ini Uda hujan Lo, kita juga jalan kaki dan bahkan nanti hujannya akan semakin deras”, jawabku.
“Sebentar aja kak, aku cuma mau ngambil catatan buat sekolah besok”, katanya lagi.

Mau tidak mau akhirnya ku iyakan pergi ke rumah temannya itu. Tak begitu lama kami singgah, kami pun bergegas pulang kembali. Hingga tiba di depan rumah, aku merasa seperti ada yang mengikuti sedari tadi.

Aku berbalik melihat ke halaman rumah, gerimis masih saja turun dan samar-samar aku mendengar ayunan di halaman rumah terayun sendiri. Tanpa pikir panjang aku langsung saja masuk ke dalam rumah dan aneh dengan Aulia, ia terlihat pucat sedari berada di depan rumah tadi.

“Kau kenapa? Sakit kah kena hujan! Ya ampun cuma gerimis pun”, tanyaku padanya.

Ia hanya menggigil kedinginan, perasaan sedari tadi dijalan dia baik-baik aja, kenapa saat berada di depan rumah ia mulai mengigil.

“Kenapa dengan Aulia?”, bibi kemudian bertanya padaku.
“Gak tau bi, saat di depan rumah tadi ia mulai mengigil”, jawabku sambil menaiki tangga untuk menuju ke kamar.

Ku hempas kan badan kecil ku ini ke atas kasur, hujan gerimis di malam hari ini pun masih saja terdengar, aku meraih handphone ku dan memeriksa chat dari teman-teman bawel yang menanyakan bagaimana kabarku sekarang.

Memang libur kuliah ini sangat membosankan, di tambah aku juga tidak mood liburan dan bahkan mager selangkah untuk keluar dari rumah. Aku memejamkan mata, hingga suara sesak nafas mulai terdengar, aku terbangun dan melihat ke arah pojokan kamar. Tidak ada siapapun, apakah itu hanya halusinasi? Suara sesak nafas itu semakin kian terdengar, dan sepertinya suara itu berasal dari dalam lemari buku belajarku.

Aku bergegas dan mengecek, akan tetapi tidak ada siapa-siapa. Aihhhh aku kembali tertipu, sesaat kemudian aku melihat ke luar jendela. Dan naas di situlah aku melihat seorang anak kecil berambut pendek sedang duduk di atas ayunan di halaman rumahku.

Aku langsung saja terjatuh ke lantai, dadaku sesak dan keringat dinginku mulai mengalir ke dalam bajuku. Ya Allah la Haula wala quata illabillah (ucapku). Hingga akhirnya setelah agak mendingan, aku berdiri dan melihat ke ayunan kembali. Alhamdulillah anak kecil tadi menghilang.

Hujan masih saja gerimis, kenapa tidak deras atau bahkan berhenti saja? Aku mengatur nafasku, sedari tadi terasa berat untuk keluarkan. Mungkinkah Aulia juga melihat anak kecil tadi? Aku lantas keluar kamar dan menemui Aulia. Sayangnya Aulia sudah tertidur sedari tadi.

“Bibi dengar suara ayunan”, tanyaku.
“Hem iya, bibi dengar, sudahlah lekas sana tidur, dia sudah pergi”, jawab bibi sambil ke dapur.

Mungkin bibi tau, dan dia malah tidak ingin mengatakannya padaku sedari tadi. Aku kembali ke kamar, dan mulai tidur untuk bangun di esok harinya. Dan suara ayunan itu kembali terdengar, di bawah hujan gerimis ini, di malam hari ini, ayunan itu masih saja terdengar.

Uhh apa yang harus kulakukan? Kata bibi dia sudah pergi? But kenapa masih saja terdengar juga? Aihhh aku terbangun dan menghadap ke arah jendela, yaps anak kecil itu masih saja berada di atas ayunan sambil menatap ke arahku sambil tersenyum licik.