Ketika Gelap

Entah di mulai darimana cerita ini. Belum terkumpul mood untuk menulis. Tapi karena ada request fans cantik yang inbok semalam. Akan ku mulai cerita ini, nyata.

Saat ini, aku tinggal di rumah baru beberapa tahun yang lalu pindah. Pasti kalian tahu jika mengikuti ceritaku sebelumnya.
Kali ini, samping lahan kosong rumahku di bangun pabrik baru, yaitu pabrik klanting artis.

Kenapa dibilang artis? Entahlah, mungkin yang punya adalah mantan artis.

Pabrik ini juga belum lama beroprasi.

Suatu hari, sebelum rutin di pakai. Bangunan pabrik ini tidak di beri penerangan. Bukan belum ada listrik, tapi mungkin lupa atau sengaja irit untuk menghidupkan penerangan.

Padahal, lokasi pabrik ini pinggir sawah dan rimbunan bambu angker. (Cerita si jahil)
Di bawah ada kali kecil, di samping kanan ada bekas belik/sumur tanpa cincin yang pernah menewaskan dua bocah.

Malam itu, aku keluar seorang diri mencari angin segar depan rumah.
Ternyata, malam itu sedang terang bulan.
Saat sedang asik memandang rembulan tiba-tiba.

“Jddeeerrr”

Suara keras dari dalam pabrik, padahal tidak ada seorangpun di dalam sana. Hanya aku seorang diri di halaman rumahku, semua orang menutup diri dirumah masing-masing.

Aku menelusuri suara tadi dengan telinga tajam, mungkin saja ada suara lain. Tapi ternyata tidak ada. Saat ku abaikan.

“Jdderr, jderrr”

Suara tak kalah nyaring susulan.

“Wah, mulai usil lagi ya. Elos sana usil, gak ngaruh. Selagi aku gak ganggu. Tapi klo masih. Gangguin tak usir lagi mau? ” Selorohku sambil nggrenyem dan masuk rumah. Tidak lupa banting pintu, biar bales dia.

***
Hari berikutnya, tidak ada yang ganggu. Karena yang punya pabrik ngasih penerangan.

Suatu hari terulang lagi, dan ini posisi pabrik sudah lancar beroprasi.
Karyawan lembur sengaja mematikan saklar semua lampu, jadi gelap lagi.

Seperti biasa, selesai makan malam. Aku keluar rumah sendirian.
Kanan-kiri, depan-belakang tak satupun terlewatkan dari pengamatan ku.
Hening…

Baru beberapa menit menikmati angin segar.
“Jjdeerrrr”

“Busyet dah, malah jadi langganan” Ucapku.

Tak berselang lama, bulek siti istri dari adik ibuku keluar rumah.

“Ngapain kamu celingukan disitu sendirian” Katanya sambil berjalan ebat-ebot karena gemuk badannya.

“Gak apa-apa, lagi nyari angin malah di usilin” Jawabku, sekenanya.

“Siapa yang usil” Tanya lagi.

“Itu, penunggu blok situ” Selorohku.

“Hiii… Apa gak takut kamu wi?”

“Ngapain takut, derajat kita lebih tinggi, klo kita takut, mereka akan semakin suka usil” Ucapmu lantang, biar dia juga dengar.

Akhirnya kami duduk di teras rumahku sambil ngobrol gak jelas.

***
Setelah sekian lama berlalu.
Tidak ada gangguan lagi, karena aku sengaja negur karyawannya yang setiap hari mematikan lampu. Untuk menyisakan satu lampu menyala. Sehingga tidak ada lagi suara yang bikin spot jantung.

Namun, suatu hari.
Disaat yang punya pabrik sedang ke Jakarta, dan karyawan lupa menyisakan lampu temaram.

“Mba, aku maen ya?… Pusing dirumah, gak ada temen” Ucap gadis cantik, anak tetanggaku.
Namanya Green, tapi usianya sama sepertiku. Hanya selisih satu tahun lebih muda.

“Oh boleh mba, sini masuk” Kataku.

“Disini saja mba, gerah di dalam rumah mulu” Sanggahnya.

Akhirnya aku mengalah, dan ikutan duduk diluar.
Sepanjang mengobrol, dia merasa tak nyaman. Karena selalu melihat ke arah pabrik yang gelap dan hamparan sawah yang sama gelapnya di seberang pabrik sana.

Obrolan kamipun mulai ngelantur, terutama mba Green.
Aku berusaha mencari obrolan lain, tapi dia selalu mengarah hal yang halu.

Tak berlangsung lama, bulek siti datang. Kami pun mengobrol bertiga di teras.
Tiba-tiba saat sedang serius dengan obrolan tegang kami.

“Jjdeerrrrrr” Suara gerbang hitam dari pabrik membuat kami terkejut.

Wajah tegang mereka menandakan ketakutan dan tanda tanya.

“Mba siap itu, kok ada yang mukul gerbang, padahal gak ada orangnya” Takut Mba Green.

“Halah, biarin aja mba, sudah biasa aku di gituin” Kataku.

“Iya, biarin Green. Mungkin kucing, gak papa. Dah biasa” Ibuh Siti.

“Iih, mba Dwi gak takut tah. Tinggal disini, mana gelap semua juga. Mana suami mba pulang malem terus” Ucap Green .

“Enggak lah udah biasa, ngapain takut Green. Yang penting rumah dia kan terang benderang. Lagian rumahnya gak pinggir-pinggir amat” Siti yang jawab pertanyaannya.

“Enggak mba… Aku dah biasa kog di kagetin. Gak cuman ini aja” Kataku.

“Wih, mba hebat ya. Klo aku dah nangis mba” Kata Green sambil ketawa.

Akhirnya obrolan kami pun beralih ke lain. Setelah lama mengobrol, Siti pulang.
Tinggal kami berdua lagi. Sampai pindah ke dalam lalu keluar lagi.

Lama-lama obrolan pun berubah horor.
Mba Green selalu mengawasi pabrik dan lahan sawah yang luas karena belum di tanami padi atau tanaman lainnya, hanya semak belukar.

“Mba, kok lama-lama merinding ya badanku. Terus kayak ada yang manggilin aku dari arah sana” Ucap Green sambil nunjuk arah sebrang pabrik/sawah.

“Itu ada suara kaki sendal berjalan mba… Siapa ya? Tuh tuh tuh dia manggilin aku lagi. Katanya aku ngganggu disini, aku disuruh pulang, aku takut mba” Lanjut ya nyerocos terus tentang hal horor tanpa menghiraukan ucapanku yang selalu mengalihkan obrolan ke hal nyata.

“Udahlah mba Green, itu perasaannya mba saja. Aku gak denger apapun. Itu suara TV ” Uacapku menenangkan. Karena sudah greget dengan obrolannya yang tak masuk akal.

Dia masih saja membahas bisikan-bisikan yang didengarnya, dan memberitahu padaku. Selalu begitu.

Aku bosan, Lama-lama ucapan dan tingkah nya membuatku merinding. Aku mengajak Green si gadis cantik itu masuk. Supaya hal negatif berkurang, namun dia tidak mau. Dia kekeh mengajak bicara bisikan yang di dengarnya.

Aku bingung.
Ingin ku cuekin dan tinggal duduk didalam tapi dia sendirian di teras. Akhirnya aku duduk lagi di luar.

Namun tingkahnya menjadi-jadi. Pengen rasanya bacain ruqiyah lantang, tapi dia masih mengajakku mengobrol denganku dan bisikannya.

Aku sudah was-was, baru kali ini aku merinding di kondisi ketika gelap pabrik itu.
Aku tak tahan…

Akhirnya, aku bujuk dia.

“Mba, sudah malam. Ayo masuk kalau masih pengen main. Aku sudah kedinginan diluar” Terpaksa aku bohong. Sumpah, merinding. Aku kalah.

Akhirnya Green mau masuk karena aku bohong masuk angin.
Segala hal horor juga hilang, dan tidak lama dia minta pulang dengan alasan sudah malam.

Aku mengantarnya dari depan pintu. Bersyukur dia pulang dalam keadaan pikiran positip. Aku tidak tahu bisikannya yang mengajak pulang masih dia tanggepin atau sudah pergi. Entahlah.

End.